Jelang minggu-minggu terakhir Tahun Liturgi Gereja, bacaan Injil terus mengingatkan kita akan kedatangan Putera Manusia pada akhir zaman.
Kisah Injil minggu ini tentang perumpamaan bendahara yang tidak jujur menjadi salah satu contoh yang menantang iman kita. Kisah ini memang panjang dan membutuhkan keseriusan untuk memahaminya.
Singkat cerita: ada seorang kaya yang memiliki seorang bendahara. Namun bendahara ini menghamburkan harta milik tuannya. Karena itu ia terancam dipecat. Ia merasa tidak kuat lagi untuk bekerja, maka ia memanggil semua orang yang berhutang kepada tuannya, lalu menyuruh mereka menulis ulang surat utang dengan jumlah yang lebih ringan. Dengan cara ini, ia berharap masih bisa menyelamatkan diri.
Melihat kelicikan itu, tuannya justru memuji bendahara yang tidak jujur itu karena cerdik mencari jalan keluar. Dari sinilah perumpamaan ini dikenal sebagai “Perumpamaan Bendahara yang Tidak Jujur tapi Cerdik.”
Injil ini dianggap salah satu yang tersulit untuk dipahami. Persoalannya: mengapa tuan memuji bendahara yang jelas-jelas tidak jujur? Jawabannya, Yesus ingin menekankan kecerdikan: bertindak cepat, tepat, dan bijak untuk menyelamatkan diri dalam situasi yang sulit.
Dengan demikian, Yesus mau mengingatkan kita bahwa kedatangan Kerajaan Allah pada akhir zaman juga dapat dibandingkan dengan situasi yang sangat genting. Karena itu, setiap orang harus bertindak cerdas dan bijaksana untuk menyelamatkan diri dari situasi yang tidak pasti.
Lebih jauh lagi, Yesus juga mengingatkan bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan berahmat agar kita bisa menyelamatkan diri, apapun keadaan kita di akhir hidup. Maka jadilah orang berdosa yang cerdik, yang mampu mencari jalan keselamatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab, seperti kata Yesus, anak-anak dunia ini lebih cerdik daripada anak-anak terang.
Yesus juga berbicara tentang mamon—harta kekayaan duniawi. Harta adalah pemberian Tuhan, maka hendaknya dipakai dengan penuh syukur. Gunakanlah itu untuk mengantar kita masuk Kerajaan Allah dengan cara berbagi kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Jangan kikir, tetapi dermawan.
Karena itu, hendaknya kita menempatkan Allah di atas segalanya. Mamon bersifat sementara, tetapi Allah bersifat kekal, yang mengantar kita menuju hidup abadi. Amin.
Kesaksian Nabi Amos
Nabi Amos adalah pembela kaum miskin dan tertindas. Ia yakin bahwa Allah adalah Allah kaum miskin, yang selalu membela hak-hak mereka.
Pesan Iman Minggu Ini
- Harta kekayaan adalah berkat cuma-cuma dari Tuhan. Karena itu, gunakanlah untuk semakin dekat dengan Tuhan dan masuk dalam Kerajaan kekal.
- Pergunakan harta untuk membantu sesama yang miskin dan berkekurangan. Dengan demikian:
Di dunia ini: orang kaya menolong orang miskin.
Di kehidupan kekal nanti: orang miskin akan menolong orang kaya.
Minggu Biasa ke-25
Bacaan: Amos 8:4-7; Lukas 16:1-13








