Sbo Ma’ekat, Tarian Perang Simbol Keperkasaan Atoni Pah Meto

- Editor

Minggu, 14 Januari 2018 - 23:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sumber : Fanpage Atoni van Timor

Sbo Ma’ekat dikenal di wilayah Amanuban dan Amanatun di TTS. Di wilayah lain dikenal dengan Bso’ot atau Bso Bano, yang membedakannya adalah perangkat giring-giring “Bano” yang dugunakan (di daerah Tetun Belu – Malaka dikenal dengan Haksoke). Pada dasarnya, keduanya adalah sama, yakni tarian yang mengisahkan tentang keperkasaan perang, tetapi berbeda pada gerak kaki. Penari Bso Bano mengenakan giring-giring dalam jumlah banyak di kakinya untuk menciptakan bunyi yang selaras dengan irama gong, sedangkan penari Sbo Ma’ekat mengenakan “Ponof” atau gelang kaki dari rambut/ekor kuda untuj menunjukkan kelincahan gerak kaki.

Pada jaman kerajaan/swapraja dulu, ada batasan yang ketat untuk tidak melintasi batas atau wilayah kerajaan lain tanpa ada alasan yang jelas. Aturan ini disebabkan karena seringnya terjadi pencurian lebah madu dan hasil hutan lainnya ataupun kayu bakar. Tanah dalam perspektif orang Timor adakah simbol harga diri dan pusaka. Orang hanya bisa melintas untuk kepentingan pesta, mencari ternak yang melintas batas dan urusan adat atau perintah raja. Diluar itu, barangsiapa yang melintas batas maka akan berisiko dibunuh. Dari kejadian seperti ini, seringkali terjadi perang antar kelompok masyarakat di perbatasan sehingga terlihat sebagai musuh (sekarang masih beberapa kali terjadi di perbatasan antara Desa Besnam di Amanuban dengan Desa Tafuli di Malaka).

Sampai pada jaman penjajahan oleh koloni Portugis dan Belanda, masyarakat di Pulau Timor juga mengadakan perlawanan-perlawanan meskipun okupasi penjajah begitu kuat menekan. Perlawanan ini dikakukan dengan senjata tradisional berupa Suni (pedang), Auni (tombak), Klaot (panah) dan Kenat (Senapan Tumbuk).

Setiap penguasa wilayah, dari yang paling besar “Swapraja” sampai yang paling kecil “Ketemukungan” pasti memiliki panglima perang yang disebut “Meo” yang bertugas sebagai pelindung dan pengaman wilayah. Meo sendiri secara harafiah berarti “kucing”, ini gambaran tentang seseorang yang pandai dalam mengintai, membuat strategi dan menyerang dengan pasti tanpa meleset. Status sebagai Meo diperoleh dari kemenangan di medan perang dan diwariskan berdasarkan garis marga. Setiap Meo dalam memimpin perang (makenat) biasanya mempunyai “fanu – le’u” yaitu jimat keramat dan ritual khusus untuk meramal perang (waktu itu belum terjamah agama Kristen, masyarakat Timor masih memeluk kepercayaan tradisional Halaika). Salah satu contohnya yaitu Meo Tauho di Benteng None yang menjaga Raja Nope – Amanuban di bagian barat kerajaan dari serangan musuh. Meo Tauho mempunyai ritual pra-perang yaitu dengan meramal hasil perang menggunakan telur dan auni/tombak. Telur sambil dibacakan do’a dipecahkan sebagian cangkangnya, dilihat bila ada bercak darah, maka akan kalah, namun jika telur mulus maka akan menang dalam perang. Inilah kelebihan dari seorang Meo. Meo lainnya yang terkenal adalah Meo Toto Smaut yang melindungi Raja Sonbai dan Meo Seky Tafuli dari Amanatun. Setiap Meo dikatakan menang dalam perang ketika berhasil memotong kepala musuh.

Kegigihan orang Timor dalam berperang guna menjaga tanahnya, juga harga dirinya sebagai wilayah berdaukat inilah yang dimanifestasikan ke dalam tarian perang. Pada jaman dahulu, Sbo Ma’ekat ditarikan untuk menyambut para Meo yang pulang dari medan perang membawa kepala musuh. Para Meo akan disambut oleh tetabuhan gong yang riang dan tarian yang atraktif dari kaum wanita. Inilah asal-mula Sbo Ma’ekat yang mengandung nilai historis, nasionalisme dan spirit pantang menyerah.

Kini, Sbo Ma’ekat ditampilkan dalam acara hiburan, penyambutan tamu maupun dilestarikan dalam kegiatan seni di sekolah/sanggar tari.

Sbo Ma’ekat diiring tetabuhan gong dan tambur yang sangat meriah (Leku Sene) dan sorakkan penyemangat (Koa’) yang membuat tarian ini unik karena dinamis dan semarak.

(Sumber : https://web.facebook.com/atonivantimor/posts/1720840924824401?_rdc=1&_rdr)
Facebook Coment

BACA JUGA  Asal Usul Nama KUPANG

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

0 tanggapan untuk “Sbo Ma’ekat, Tarian Perang Simbol Keperkasaan Atoni Pah Meto”

  1. Itulah warisan kekayaan nenek moyang kita yang sepatutnya dilestarikan. Namun sayang sekali, generasi (anak Timor) zaman sekarang doyan dengan dansa dan tarian lainnya yang adalah budaya orang lain/luar. Semoga para kepala daerah di tanah Timor, sadar dan mau membuat program untuk melestarikan warisan nenek moyang kita, karena budaya merupakan simbol jati diri.

Tinggalkan Balasan

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup
FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM
Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia
Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim
Berita ini 43 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:54 WITA

Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:48 WITA

Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Kamis, 23 April 2026 - 06:32 WITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Dari Loh Batu ke Hati Manusia: Karya Roh Kudus di Hari Pentekosta

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:11 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komsos Sedunia ke-60

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:10 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Bahasa, Doa, dan Komunikasi: Jalan Menuju Persatuan dalam Kristus

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:58 WITA

error: Content is protected !!