Renungan Minggu Biasa XXIII Oleh Rm. Chris Taus, Pr.
Bacaan: Yehezkiel 33:7-9; Roma 13:8-10; Matius 18:15-20
Akibat dosa Adam, leluhur kita, manusia mengalami luka akibat dosa. Karena itu, kehidupan manusia tidak pernah lepas dari kemungkinan jatuh ke dalam dosa. Dosa adalah perbuatan yang melanggar perintah Tuhan. Karena itu, setiap kita membutuhkan proses penyadaran diri yang terus-menerus menuju kesucian hidup, yaitu hidup yang berkenan kepada Tuhan.
Hidup suci adalah panggilan menuju kesempurnaan hidup. Tuhan menghendaki agar kita hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan. Untuk itu, Tuhan menawarkan berbagai cara agar kita terus mengingat dan menyadari panggilan kita sebagai anak-anak Allah.
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

MURAH! Hubungi 08113810024
Injil hari ini merupakan salah satu cara Tuhan mengingatkan kita. Yesus mengajarkan agar kita terus saling menasihati supaya tidak jatuh ke dalam dosa.
Yesus berkata:
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”
Nasihat Yesus ini kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah lain apabila saudara tersebut tidak mau mendengarkan nasihat secara pribadi.
Memang, tidak mudah menegur atau menasihati saudara yang bersalah atau jatuh ke dalam dosa. Kita tidak pernah tahu apakah saudara kita akan menerima teguran tersebut atau justru menolaknya. Setiap orang memiliki kecenderungan untuk membenarkan dan membela dirinya sendiri. Karena itu, tidak mudah bagi seseorang untuk menerima atau mendengarkan nasihat dari orang lain.
Hal ini hanya mungkin terjadi apabila setiap orang memiliki sikap rendah hati dan terbuka terhadap nasihat serta teguran. Kita semua memiliki resistensi diri yang kuat untuk membela diri ketika merasa dipersalahkan.
Namun, Injil hari ini juga mengingatkan bahwa ada saat-saat yang tidak terduga ketika kita bisa jatuh ke dalam perbuatan dosa. Dalam keadaan seperti itu, alangkah baiknya apabila kita mampu menerima dengan rendah hati nasihat yang disampaikan dalam semangat persaudaraan Kristiani yang tulus.
Nasihat tersebut diberikan demi perbaikan hidup kita dan demi membantu kita semakin bertumbuh menuju kesucian hidup sebagai anak-anak Allah.
Tentu ada satu syarat penting: nasihat tidak boleh diberikan dengan sikap menghakimi atau mempersalahkan.
Inilah yang dalam tradisi Kristiani dikenal sebagai correctio fraterna, yakni saling mengingatkan sebagai saudara.
Kita perlu membedakan antara menegur dengan kasih dan menghakimi. Menghakimi dosa adalah hak Allah. Hanya Allah yang memiliki hak penuh untuk menghakimi seseorang. Tugas kita adalah membantu, mengingatkan, menasihati, dan membawa saudara kita kembali kepada jalan yang benar.
Dengan cara demikian, kita sungguh-sungguh hidup sebagai saudara dalam Kristus.
Tanggung Jawab untuk Saling Mengingatkan
Nabi Yehezkiel juga mengingatkan kita tentang tanggung jawab tersebut. Jika seseorang melihat saudaranya berada di jalan yang salah tetapi tidak memberikan peringatan, maka ia pun memiliki tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Karena itu, menegur atau mengingatkan sesama yang berbuat salah bukan sekadar pilihan, tetapi juga merupakan tanggung jawab iman.
Namun, tanggung jawab tersebut harus dijalankan dalam semangat kasih, bukan kebencian; dalam kerendahan hati, bukan kesombongan; dan dalam semangat persaudaraan, bukan keinginan untuk menjatuhkan.
Sebab bisa saja suatu hari nanti kitalah yang berada dalam posisi membutuhkan teguran dan nasihat dari orang lain.
Karena itu, ketika kita bersalah dan dinasihati atau ditegur, hendaknya kita juga belajar menerima dengan rendah hati. Jangan langsung merasa diserang atau dipermalukan. Barangkali melalui teguran saudara kita, Tuhan sedang mengingatkan dan menyelamatkan kita dari jalan yang salah.
Pesan Iman
Pertama, apa pun keadaannya, kita tetap dituntut untuk memberikan correctio fraterna kepada sesama yang bersalah, berdasarkan kasih persaudaraan Kristiani.
Kedua, ketika kita bersalah dan dinasihati atau ditegur, marilah kita menerimanya dengan rendah hati demi perbaikan diri dan demi menjaga persaudaraan.
Ketiga, janganlah kita menjadikan teguran sebagai kesempatan untuk menghakimi atau mempermalukan orang lain. Tegurlah dengan kasih dan kerendahan hati.
Sebab kita sungguh-sungguh menjadi saudara ketika kita saling mengingatkan, saling meneguhkan, dan saling membantu untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Semoga kita memiliki hati yang rendah untuk menerima nasihat dan hati yang penuh kasih untuk memberikan nasihat.
Tuhan menghendaki kita semua hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan. Karena itu, marilah kita saling membantu untuk tetap berada di jalan menuju kesucian.
Amin.
Minggu Biasa XXIII
Yehezkiel 33:7-9
Roma 13:8-10
Matius 18:15-20
Penulis : Rm. Chris Taus
Editor : Del Neonub







