Puisi 5 Dari Anak Pemana untuk Nusantara
Aku, anak Pemana, mengarungi perjuangan ini,
Bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan semangat jiwa,
Mata ini bercahaya seperti bintang di malam kelam,
Menggapai cita di antara riak gelombang yang menggulung.
Sekolah sederhana di tepian pantai yang damai,
Menjadi tempat aku menimba ilmu dengan penuh tekad dan cinta,
Di bawah atap yang sederhana, papan tulis dan kursi kayu setia mendampingi,
Saksi bisu dari perjalanan mimpi-mimpiku yang berlayar dalam harapan.
Setiap pagi, aku memulai perjalanan panjang,
Bersama buku-buku dan harapan yang menyala di hati,
Berlayar dengan ombak, dan angin lembut sebagai teman,
Dalam ruang kelas kecil yang sarat dengan impian yang tak terbagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di antara pelajaran dan lantunan ombak yang bersenandung lembut,
Terdengar kerinduan mendalam yang mengalir dalam diriku,
Mimpi-mimpi ini melayang tinggi menuju dunia yang lebih luas,
Dengan pena dan tinta, aku menulis kisah untuk mengubah nasib.
Jauh dari gemerlap kota dan gedung pencakar langit,
Aku membangun jembatan ilmu dan kasih dengan segala usaha,
Dengan setiap tetes keringat dan harapan yang tak pernah padam,
Aku membuktikan bahwa tekad dan keberanian mampu menembus batas.
Aku, anak Pemana yang mungkin tampak terasing dalam pandangan dunia,
Namun di dalam diriku terukir kekuatan dan keindahan perjuangan,
Di setiap riak lautan dan langkah kaki yang mantap,
Aku menulis sajak yang menginspirasi dan menyentuh hati Nusantara.
Untuk setiap nelayan yang berjuang di laut biru yang tak terhingga,
Untuk setiap mimpi yang membara di malam yang hening,
Dari pulau terpencil ini, dipenuhi doa dan harapan,
Aku menulis puisi dari lubuk hati yang terdalam,
Untuk Nusantara, tanah tercinta yang menjadi saksi setiap langkahku.
Salam dariku, anak Pemana.
***