PUISI: MENYINGKAP “PANORAMA RASA”

BERITA45 Dilihat
Oleh : Yoflan Bagang
Perasaan merupakan elemen eksistensial yang ada secara inheren dalam diri setiap manusia. Oleh karena manusia dilengkapi dengan fakultas mental tersebut, maka sebenarnya semua manusia bisa menjadi penyair. Mengapa?
Puisi lahir dari “amukan” perasaan di ke dalaman samudra kehidupan seseorang. Aneka emosi itu coba disalurkan secara estetis dalam bentuk kata yang dipadatkan (puisi). Puisi merupakan karya sastra yang dapat memantulkan secara plastis variasi emosi pengarangnya. Kita bisa mencicipi panorama rasa dari taman kalbu sang penyair melalui apresiasi yang kreatif dan produktif atas karyanya.
Untung ada puisi. Rahasia rasa di bilik nubari akan terlacak dengan mengupas lapisan estetis dan makna dalam sebuah puisi. Dalam dan melalui puisi “rasa manusiawi” bertransformasi menjadi “hidangan keindahan” yang lezat dikonsumsi. Puisi yang bermutu dan indah merupakan vitamin esensial bagi jiwa. Karena itu, para apresiator puisi berkesimpulan bahwa sebuah puisi mengandung unsur kegunaan (utile) dan hiburan (dulce).
Manusia adalah makluk puitis. Keberadaan “sang manusia” itu sendiri bisa dilihat sebagai satu puisi berkelas yang dikreasi oleh “Penyair Agung”. Kita tahu bahwa manusia adalh ko-kreator “Sang Penyair Tak Keliahatan” itu. Manusia sudah mendapat talenta genial untuk menghasilkan karya yang bercitarasa puitis.
Namun, ciptaan manusia tak boleh hanya sekadar penonjolan naluri merangkai kata-kata yang indah dan bombastis. Puisi merupakan ekspresi rasa yang orisinal yang terbungkus dalam formulasi nan artistik. Manusia terus merawat rasanya melaui pergaulan yang intensif dan kreatif terhadap kata. Tak diragukan lagi, puisi berpotensi “menyegarkan” dunia batin kita. Selamat berpuisi!
Baca Juga  Guru yang Tak Berjiwa Guru

Tinggalkan Balasan