Tidak semua anggota masyarakat Laban di Timor-Indonesia, hidup berdekatan dengan raja. Sehingga kerap kali, masyarakat kebanyakan tidak bisa menggunakan etika ber-bahasa jenis ini dengan baik. Karena itu, bila mereka berurusan ke istana raja atau pada saat raja berkujung ke tengah masyarakat, mereka hanya bisa berkomunikasi dengan para raja atau para petinggi kerajaan melalui para juru bicara yang dikenal dengan sebutan Mafefa’ (yang bermulut, yang peta lidah), alias penyambung lidah masyarakat atau ahli tutur adat. Saya menuliskan semuanya ini, bukan untuk menghidupkan lagi semangat feodalisme dulu, yang juga menjalari penggunaan bahasa sambil bersembunyi di balik alasan hukum pluralis mayestatis, tetapi usaha saya ini merupakan tanda kecintaan saya terhadap kekayaan budaya yang terkandung dalam penggunaan bahasa ibu. Harapan saya, generasi setelah saya, bisa belajar dan tahu bahwa etika ber-bahasa pun pernah dimiliki oleh Uablaban dan digunakan oleh masyarakat Laban (Dawan). *** Kuluhun, Dili, Timor-Leste,11 Maret 2012Prisco Virgo