Kesiapan Festival Budaya Melas/Larik Riung dan Sagi So’a Capai 90%
Kupang, 26 Agustus 2025 – matatimor.net – Panitia Festival Budaya Melas/Larik Riung dan Sagi So’a menyatakan persiapan acara sudah mencapai 90%. Festival ini akan berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025 di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua Panitia Pentas Seni Budaya, Antonius Gili, menyampaikan langsung kepada awak media bahwa dua atraksi khas Kabupaten Ngada—saling cambuk (Larik) dari Riung dan tinju adat (Sagi So’a) dari So’a—telah memasuki tahap finalisasi teknis dan gladi bersih. Ia menambahkan, pertandingan Sagi So’a juga akan melibatkan komunitas budaya lain, seperti Ikatan Keluarga Besar Nagekeo-Kupang (Etu) dan Wolo Rowa (Sudu).
“Kami bersyukur karena seluruh elemen masyarakat dan paguyuban sangat antusias. Kesiapan sudah 90%, dan kami optimis festival ini sukses,” kata Anton Gili.
Menurutnya, pembiayaan kegiatan ini berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp 30 juta, serta dukungan Paguyuban Ngada Diaspora di Kupang. Ia berharap festival ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.
“Festival ini kami rancang sebagai sarana edukasi budaya untuk generasi muda, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan kuliner,” jelasnya.
Festival Kebudayaan di Taman Budaya
Tokoh adat asal So’a, Agustinus Loko, yang datang bersama timnya, mengaku bangga mendapat kesempatan tampil. Ia menilai partisipasi mereka sebagai bentuk tanggung jawab budaya.
Senada dengannya, budayawan Riung Sirilus Sungga memastikan tim Larik siap tampil. Rombongan mereka berjumlah sekitar 50 orang, termasuk tiga kelompok utama yang akan bertarung dan sejumlah pendukung.
“Larik atau Melas bukan sekadar pertunjukan fisik. Ada filosofi tentang kesuburan, ketahanan pangan, dan harmoni manusia dengan alam. Budaya ini wajib kita wariskan,” tegas Sirilus. Ia juga mengaitkan nilai budaya tersebut dengan upaya pengurangan stunting melalui pendekatan budaya.
Kepala Desa Lanamai 1, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, menyatakan dukungan penuh untuk festival ini. “Kami percaya budaya ini aset besar. Pemerintah provinsi harus serius mengembangkannya sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus sumber PAD,” ujarnya.
Pantauan media memperlihatkan tim Larik Riung dan Sagi So’a berlatih penuh semangat menjelang hari-H. Festival ini diprediksi berlangsung meriah sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal NTT, serta memperkuat kolaborasi budaya antar-daerah.
