Duka Flores, Goyang “Bosan Hala”, dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial
Media sosial kita akhir-akhir ini mirip panggung pengadilan terbuka: bising, emosional, dan gampang sekali menjatuhkan vonis. Contoh paling nyata terlihat dari amukan akun Facebook bernama Melianus Alopada yang mengecam keras aksi aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Kupang yang terekam asyik berjoget “bosan hala” pada hari Jumat, 21 Agustus, di saat saudara-saudara kita di Flores sedang berduka karena bencana. Ijinkan saya dengan bantuan kecerdasan buatan, mencurahkan isi kepala saya lewat tulisan di bawah ini. semoga berkenan! Pastikan membacanya sampai selesai barulah memberi komentar. Salam Bosan Hala
1. Ketika Kemarahan Menyiram Rata dan Siapa yang Bertanggung Jawab
Meskipun akun tersebut tidak secara gamblang menuliskan frasa “ASN Kabupaten Kupang”, namun siapa pun yang melihat rangkaian konteksnya, mulai dari penulisan kata “Semau” hingga visual orang-orang berseragam khaki yang berjoget, pasti tahu persis ke mana arah telunjuk kemarahan itu ditujukan. Sasaran tembaknya jelas: para ASN yang terekam ikut berjoget. Alhasil, cap “goblok” menyiram rata semua yang ada di dalam video tanpa kecuali.
Di titik inilah kita patut bertanya: siapa yang harus bertanggung jawab?
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

MURAH! Hubungi 08113810024
Tanggung jawab ini tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada para pegawai bawahan yang hadir karena instruksi atau sekadar meluapkan rasa lega setelah berbulan-bulan menunggu kepastian gaji. Tanggung jawab terbesar justru berada di pundak pimpinan atau pemangku kebijakan. Seorang pemimpin yang bijak seharusnya memiliki kepekaan membaca situasi (reading the room). Ketika saudara-saudara kita di Flores sedang berduka, memilih merayakan pencairan hak dengan selebrasi visual yang terbuka di ruang publik adalah sebuah kekeliruan membaca ruang. Pimpinanlah yang seharusnya mengarahkan bentuk perayaan yang lebih senyap, bermartabat, dan tahu menempatkan diri, sehingga anak buahnya tidak terjebak menjadi bahan amuk publik.
2. Dapur, Hak yang Tertunda, dan Ruang Batin Manusia
Sebagai seorang guru yang juga sering keluyuran di media sosial, saya paham betul bahwa visual yang “seksi” (seperti video orang berjoget) paling cepat memancing klik, amarah, dan jempol warganet. Tapi, mari kita fokus pada konteks di balik video itu.
Bupati Kupang mengumpulkan para ASN. Baik PNS maupun P3K pada hari Jumat 21 Agustus itu bukan untuk PESTA PORA dan merayakan penderitaan orang lain. Hari itu, ada kabar gembira yang sudah berbulan-bulan dinantikan dengan cemas: pembayaran gaji P3K dan Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) PNS yang sempat macet akhirnya mendapat kejelasan.
Bagi orang luar, goyang itu terlihat tidak berempati. Tapi bagi seorang guru atau pegawai kecil, kepastian gaji adalah urusan perut, dapur, dan kelangsungan hidup anak-anak di rumah setelah berbulan-bulan tekor. Manusia punya kapasitas batin untuk merasa lega karena dapurnya mengepul kembali, sembari tetap mendoakan dan menggalang uluran tangan bagi korban bencana di Flores. Terlebih pimpinan daerah juga sudah mengarahkan penggalangan dana sukarela.
Namun, di sisi lain, kita juga perlu mengerem nalar kita agar tidak terjebak dalam arus generalisasi yang keliru. Kedukaan akibat bencana tidak perlu digeneralisasi secara berlebihan, dan duka orang lain pun tidak boleh “dijual” sekadar untuk meraup perhatian atau memantik sensasi di media sosial. Menjual duka berarti menjadikan penderitaan sesama sebagai alat pukul atau panggung emosional untuk menghakimi pihak lain secara membabi buta, seolah-olah mereka yang bergembira atas hak ekonominya yang cair otomatis menjadi penjahat kemanusiaan. Bencana menuntut empati dan uluran tangan nyata, bukan saling lempar caci maki atau mempolitisasi air mata korban demi panggung dunia maya.
3. Catatan Penutup: Menjaga Nurani, Merawat Nalar
Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, saya selalu mengajarkan kepada murid-murid saya di kelas bahwa kata-kata dan tulisan adalah cerminan isi kepala. Media sosial hari ini terlalu sering memancing kita memproduksi kalimat-kalimat penuh amarah sebelum isi kepala kita dingin. Akan panjang kalau saya urai banyak tentang kondiri literasi kita. (kita urai di kesempatan lain)
Polemik goyang “bosan hala” di Kab. Kupang memberi kita pelajaran berharga. Negara wajib menepati hak kesejahteraan pegawainya agar mereka tidak tersiksa penantian, dan di sisi lain, para pelayan publik juga dituntut punya kepekaan rasa yang selaras dengan denyut penderitaan rakyat.
Mari belajar merawat empati kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Flores, namun mari juga belajar adil dalam menilai. Kritik kebijakannya, ingatkan kurang pekadya situasi, tapi jangan biarkan jempol kita ikut menghakimi martabat orang secara serampangan, sambil tetap menjaga agar nurani kita tidak pernah mati bagi mereka yang sedang berduka di sana.
Catatan: Bosan Hala / Dolo Bosan Hala, sebuah lagu dari Flores Timur karya Andre Witak dengan Aransemen Musik Martin Kurman ini cukup akrab di telinga orang-orang NTT. linknya di sini : https://youtu.be/fW10Zz5Fqr0?si=1g8ZTQLVKdDKHGI7
Penulis : Adelbertus F. Neonub
Editor : Del Neonub







