Yesus: Sang Pendoa yang Ulung
Yesus adalah seorang pendoa yang ulung. Di tengah kesibukan karya-Nya mewartakan Injil, Kabar Gembira Kerajaan Allah, yang terkadang sangat melelahkan. Yesus selalu menyempatkan diri untuk mencari waktu berkomunikasi secara mistik dengan Allah Bapa dalam bentuk doa. Doa Yesus senantiasa mencari kehendak Allah. Apa yang Allah kehendaki, itulah yang dikerjakan oleh Yesus.
Dalam komunikasi mistik ini, Yesus menerima kuasa ilahi dari Allah untuk mewartakan Injil dan meneguhkannya melalui perbuatan-perbuatan mukjizat. Saat berdoa, Yesus kadang menyendiri di tempat yang sunyi. Seperti kisah dalam Kitab Suci minggu ini, Yesus naik ke atas gunung untuk berdoa seorang diri. Namun, kadang kala Yesus juga membawa para murid-Nya. Petrus, Yakobus, dan Yohanes, seperti saat berdoa di atas Gunung Tabor dan di Taman Getsemani.
Doa Yesus sungguh dahsyat; melalui doa, Ia mengadakan mukjizat. Yesus sengaja mengajak murid-murid-Nya ikut berdoa supaya kelak mereka dan setiap pengikut-Nya juga menjadi seorang pendoa. Yesus pun mengajar mereka cara berdoa yang baik melalui doa “Bapa Kami” doa terbaik sepanjang masa. Amin.
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

MURAH! Hubungi 08113810024
Iman di Tengah Badai Kehidupan
Para murid Yesus selalu ikut dan tinggal bersama-Nya. Meski demikian, mereka tidak luput dari pengalaman hidup berupa cobaan, tantangan, dan badai kehidupan. Saat mengalami badai, para murid pun merasa takut, kurang percaya, dan goyah imannya. Kisah Injil hari Minggu ini menjadi salah satu contoh nyata.
Ketika perahu para murid dihantam angin sakal dan gelombang badai, mereka takut akan tenggelam. Saat mereka melihat Yesus berjalan di atas air, ketakutan mereka memuncak karena mengira Dia adalah hantu. Bahkan ketika Petrus diizinkan Yesus untuk datang kepada-Nya dengan berjalan di atas air, Petrus merasa takut lalu mulai tenggelam. Ia pun berseru meminta tolong, dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan Petrus. Begitu Yesus dan Petrus naik ke atas perahu, angin pun reda dan laut menjadi sangat teduh. Kehadiran Yesus membuat badai tenang dan berlalu.
Kisah Injil ini membawa pesan yang kuat bagi kita: setiap dari kita tidak akan luput dari tantangan dan badai hidup dalam berbagai bentuk. Ketika mengalaminya, kita tidak perlu panik dan takut. Seperti Petrus, berserulah meminta tolong kepada Yesus. Dia akan mengulurkan tangan-Nya yang lembut untuk menolongmu, termasuk dalam menghadapi badai hidup yang paling krusial, yaitu penderitaan, sakit, dan kematian. Bersama dan di dalam Yesus, badai pasti berlalu. Amin.
Kehadiran Allah yang Lemah Lembut
Nabi Elia dalam bacaan pertama juga berjuang menghadapi tantangan yang berat untuk sampai ke atas Gunung Horeb (Sinai). Dalam sebuah perjumpaan mistik dengan Tuhan, Elia menyadari bahwa Allah memanggil bangsa Israel yang keras kepala menuju keselamatan.
Cara Allah menyelamatkan Israel bukanlah dengan kekuatan angin taufan atau badai yang membelah gunung dan bukit, melainkan dengan kelembutan Roh Tuhan. Allah hadir dalam bentuk angin sepoi-sepoi basah yang mencairkan hati yang keras menjadi hati yang lembut, serta mengubah manusia yang tegar tengkuk menjadi manusia yang baik.
Melalui kehadiran-Nya, segala hal yang bermusuhan akan dipersatukan kembali: kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan saling berpelukan (Bdk. Mazmur 85:11-12). Amin.
BACAAN MINGGU BIASA XIX
- Bacaan I: 1 Raja-raja 19:9a, 11-13a
- Bacaan II: Roma 9:1-5
- Injil: Matius 14:22-33
Penulis : Rm. Chris
Editor : Del Neonub







