Homili Minggu Biasa XXXI – Hari Raya Semua Orang Kudus
Hari Raya Semua Orang Kudus mengajak kita untuk memandang kembali panggilan dasar setiap orang Kristen: menjadi kudus. Kekudusan bukanlah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi para santo dan santa yang namanya tercatat dalam kalender Gereja. Kekudusan juga bukan sesuatu yang baru dapat kita miliki setelah meninggal dunia dan masuk surga. Kekudusan adalah panggilan yang telah diberikan kepada kita sejak menerima Sakramen Pembaptisan.
Dalam bacaan Kitab Wahyu, Rasul Yohanes menggambarkan suatu penglihatan tentang sejumlah besar orang yang tidak terhitung banyaknya. Mereka berasal dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa. Mereka berdiri di hadapan takhta dan Anak Domba dengan mengenakan jubah putih (Why. 7:9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapakah orang-orang berjubah putih itu?
Mereka adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar. Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba (Why. 7:14). Gambaran ini berbicara tentang iman yang bertahan dalam penderitaan, kesetiaan kepada Kristus, dan keberanian untuk memberikan kesaksian tentang Injil.
Jubah putih itu sesungguhnya sudah menjadi milik kita semua.
Ketika dibaptis, kita mengenakan kain putih sebagai tanda bahwa kita telah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Kita menerima martabat sebagai anak-anak Allah dan dipanggil untuk hidup dalam kekudusan.
Ada sebuah kisah sederhana ketika pembaptisan anak-anak di Subele. Pada waktu itu, ada seorang anak yang tidak disiapkan kain putih untuk dikenakan setelah pembaptisan. Namun, bapaknya tidak kehilangan akal. Ia merobek saku bajunya yang berwarna putih, lalu menggunakannya sebagai kain putih bagi anaknya.
Sebuah peristiwa sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Jangan sampai seorang anak tidak mengenakan tanda jubah putih dalam pembaptisan. Sebab jubah putih merupakan tanda kehidupan baru yang diterimanya dalam Kristus.
Namun, kita perlu memahami bahwa jubah itu menjadi putih bukan karena pemiliknya tidak pernah berdosa atau tidak pernah mengalami penderitaan. Jubah itu putih karena telah dicuci dalam darah Anak Domba. Artinya, kekudusan kita bersumber dari rahmat dan pengorbanan Kristus, bukan semata-mata dari kemampuan manusia untuk menjadi sempurna.
Para Martir: Darah yang Menjadi Benih Kekristenan
Sejarah Gereja memperlihatkan bahwa perjalanan iman tidak selalu berlangsung dalam suasana damai. Sejak zaman para rasul, Gereja mengalami penganiayaan. Banyak orang Kristen harus mempertaruhkan nyawa karena kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus.
Rasul Petrus, menurut tradisi Gereja, wafat disalibkan dengan kepala di bawah. Rasul Paulus dihukum mati dengan dipenggal kepalanya. Rasul Andreas dikenal dalam tradisi sebagai martir yang wafat pada salib berbentuk X. Sementara itu, Rasul Yohanes dikisahkan dalam tradisi mengalami percobaan pembunuhan dengan dimasukkan ke dalam minyak mendidih, sebelum akhirnya dibuang ke Pulau Patmos.
Di Pulau Patmos itulah Yohanes menerima penglihatan yang kemudian dituliskannya dalam Kitab Wahyu. Kitab ini menjadi sumber pengharapan bagi jemaat-jemaat Kristen yang sedang menghadapi tekanan dan penganiayaan.
Pengalaman Gereja perdana mengajarkan kepada kita bahwa penganiayaan tidak mampu memadamkan iman. Sebaliknya, kesaksian para martir justru membuat iman Kristen semakin dikenal dan berkembang.
Ada sebuah ungkapan terkenal dari Tertulianus:
“Sanguis martyrum semen Christianorum.”
Artinya: Darah para martir adalah benih bagi orang-orang Kristen.
Semakin Gereja dihambat, semakin iman Kristen bertumbuh. Bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena Gereja senantiasa disertai, dijaga, dilindungi, dan dibela oleh Parakletus, yakni Roh Kudus, Roh Yesus Kristus sendiri.
Kita dapat melihat bagaimana Kekristenan yang dahulu mengalami penganiayaan dalam Kekaisaran Romawi kemudian bertumbuh dan berakar kuat. Kota Roma yang pernah menjadi pusat kekuasaan kekaisaran akhirnya menjadi pusat penting kehidupan Gereja Katolik.
Batu-batu bangunan kekaisaran boleh menjadi saksi perubahan zaman, tetapi iman kepada Kristus terus hidup melampaui pergantian kekuasaan dan generasi.
Kita Sudah Menjadi Anak-Anak Allah Sekarang Ini
Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes ditegaskan:
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1).
Perhatikan kata-kata ini: kita adalah anak-anak Allah sekarang ini!
Bukan nanti. Bukan hanya ketika kita sudah meninggal dunia. Bukan pula ketika kita sudah berada di surga. Sekarang ini, melalui rahmat pembaptisan, kita telah menerima martabat sebagai anak-anak Allah.
Seorang anak memiliki hak untuk menerima warisan dari orang tuanya. Ia tidak perlu membeli hak tersebut. Ia tidak perlu membayar untuk menjadi anak. Demikian pula, kita menerima anugerah sebagai anak-anak Allah bukan karena jasa atau kekuatan kita sendiri, melainkan karena kasih karunia-Nya.
Salah satu warisan yang dijanjikan Allah kepada kita ialah kehidupan kekal dan kemuliaan bersama-Nya.
Karena itu, kekudusan bukan hanya tujuan yang menunggu kita di surga. Kekudusan merupakan panggilan yang harus mulai kita hidupi sekarang. Kita dipanggil untuk semakin serupa dengan Kristus, memiliki hati seperti hati-Nya, mengasihi seperti Dia mengasihi, mengampuni seperti Dia mengampuni, dan melayani seperti Dia melayani.
Sabda Bahagia: Konstitusi Kehidupan Orang Kudus
Dalam Injil Matius, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia (Mat. 5:1-12). Sabda Bahagia dapat kita pahami sebagai konstitusi kehidupan orang-orang kudus. Di dalamnya Yesus menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh setiap orang yang ingin hidup dalam Kerajaan Allah.
Ada delapan Sabda Bahagia yang menjadi jalan pembentukan diri menuju kekudusan:
1. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.
Kerendahan hati adalah mesin cuci kehidupan rohani kita. Orang yang miskin di hadapan Allah menyadari bahwa dirinya membutuhkan Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tidak sombong, dan tidak merasa lebih hebat daripada orang lain.
2. Berbahagialah orang yang berdukacita.
Air mata menjadi mesin cuci hati. Orang yang berdukacita bukanlah orang yang kehilangan harapan, melainkan orang yang memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama, berani menyesali dosa, dan tetap percaya akan penghiburan Allah.
3. Berbahagialah orang yang lemah lembut.
Kelemahlembutan menjadi mesin cuci kehidupan. Orang yang lemah lembut tidak menggunakan kekuasaan untuk menindas, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan tidak menjadikan kemarahan sebagai penguasa hidupnya.
4. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran.
Kerinduan akan kebenaran menjadi mesin cuci hati. Orang kudus selalu merindukan kehendak Allah, memperjuangkan keadilan, dan tidak berkompromi dengan ketidakbenaran.
5. Berbahagialah orang yang murah hati.
Kemurahan hati menjadi mesin cuci kehidupan. Orang yang murah hati tidak menutup mata terhadap kebutuhan sesama. Ia rela berbagi, menolong, dan mengampuni.
6. Berbahagialah orang yang suci hatinya.
Kemurnian hati menjadi mesin cuci kehidupan rohani. Orang yang suci hatinya memiliki ketulusan dalam berpikir, berkata, dan bertindak. Ia tidak menyimpan kebencian, iri hati, atau niat jahat.
7. Berbahagialah orang yang membawa damai.
Perdamaian menjadi mesin cuci kehidupan. Orang kudus tidak suka mengadu domba, menyebarkan kebencian, atau memperbesar perselisihan. Sebaliknya, ia menjadi jembatan yang mempertemukan dan mempersatukan.
8. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.
Kesetiaan dan keberanian menjadi mesin cuci kehidupan. Orang yang mengikuti Kristus harus siap menghadapi tantangan, penolakan, bahkan penderitaan karena mempertahankan kebenaran dan imannya.
Inilah jalan kekudusan yang ditawarkan Yesus. Bukan jalan untuk mencari pujian manusia, melainkan jalan untuk membentuk hati agar semakin menyerupai hati Kristus.
Tidak Ada Orang Kudus Tanpa Masa Lalu
Ada sebuah ungkapan yang sering dikutip dalam refleksi tentang pertobatan dan kekudusan:
“Every saint has a past, and every sinner has a future.”
Artinya: Setiap orang kudus mempunyai masa lalu, dan setiap orang berdosa mempunyai masa depan.
Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menganggap masa lalunya sebagai penghalang untuk menerima rahmat Allah. Orang yang pernah jatuh masih dapat bangkit. Orang yang pernah berdosa masih dapat bertobat. Orang yang pernah jauh dari Tuhan masih dapat kembali kepada-Nya.
Santo Agustinus adalah salah satu contoh yang sangat kuat. Sebelum menjadi seorang uskup dan pujangga Gereja, ia pernah menjalani kehidupan yang jauh dari kehendak Allah. Ia pernah terjerumus dalam berbagai pencarian hidup dan menganut Manikheisme. Namun, melalui proses panjang, doa ibunya, Santa Monika, dan rahmat Allah, Agustinus akhirnya mengalami pertobatan.
Putranya, Adeodatus, juga dikenal dalam sejarah hidup Santo Agustinus.
Kisah Agustinus menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan seseorang. Rahmat Allah sanggup mengubah kehidupan manusia.
Demikian pula dengan kita. Mungkin ada di antara kita yang pernah melakukan kesalahan besar. Ada yang pernah hidup jauh dari Tuhan. Ada yang pernah menyakiti sesama, terjerat kebencian, atau kehilangan arah hidup. Namun, jangan pernah berpikir bahwa semuanya sudah berakhir.
Selama masih ada kesempatan untuk bertobat, pintu kerahiman Allah tetap terbuka.
Kita yang berdosa masih mempunyai masa depan untuk menjadi orang kudus. Sebab jubah kita telah dicuci dalam darah Kristus, Anak Domba Allah.
Kekudusan Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari
Hari Raya Semua Orang Kudus bukan sekadar perayaan untuk mengenang para santo dan santa. Perayaan ini merupakan undangan bagi kita semua untuk mengikuti jejak mereka.
Kita tidak harus melakukan mukjizat besar untuk menjadi kudus. Kita tidak harus mengalami kematian sebagai martir untuk menjadi orang kudus. Kita dapat memulai kekudusan dari hal-hal sederhana: menjadi suami atau istri yang setia, orang tua yang penuh kasih, anak yang hormat kepada orang tua, pemimpin yang jujur, pelayan Gereja yang rendah hati, serta anggota masyarakat yang membawa damai.
Kekudusan juga tampak ketika kita berani mengampuni orang yang bersalah kepada kita, membantu mereka yang miskin, mengunjungi orang sakit, menghibur mereka yang berdukacita, dan memperjuangkan kebenaran meskipun tidak selalu mudah.
Jubah putih yang kita terima saat pembaptisan harus terus kita jaga melalui kehidupan yang sesuai dengan Injil.
Kita semua telah dipanggil menjadi kudus. Jangan menunda kekudusan sampai hari tua. Jangan menunggu sampai berada di surga. Jangan pula merasa bahwa masa lalu membuat kita tidak layak di hadapan Allah.
Kita adalah anak-anak Allah sekarang ini. Kita telah mengenakan jubah putih. Dan kita dipanggil untuk berjalan menuju kekudusan mulai hari ini.
Semoga pada akhirnya, kita pun termasuk dalam himpunan besar orang-orang berjubah putih yang berdiri di hadapan takhta Allah dan Anak Domba, sambil memuji dan memuliakan-Nya untuk selama-lamanya.
Sebab setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi kudus. Kekudusan bukan hanya milik para santo dan santa, melainkan panggilan kita semua.







