Renungan Minggu Biasa 30
Kotbah Katolik Minggu Biasa 30: Hukum Kasih
Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel dikenal sebagai umat pilihan Allah yang menerima perjanjian dan janji keselamatan-Nya. Bangsa Israel mewarisi kekayaan tradisi iman, hukum, dan kehidupan keagamaan yang berakar pada perjanjian antara Allah dan umat-Nya.
Pada zaman Yesus, sebagian masyarakat Yahudi sangat menekankan identitas keagamaan dan pelaksanaan Hukum Taurat. Dalam pandangan kelompok tertentu, hubungan dengan bangsa-bangsa lain dibatasi oleh ketentuan mengenai kemurnian keagamaan dan adat istiadat. Hal ini antara lain tergambar dalam kisah Yesus yang berbicara dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4:1–42).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Yesus datang untuk mewartakan Injil, yakni kabar gembira keselamatan Allah, bukan hanya kepada orang Yahudi, melainkan juga kepada semua orang. Pewartaan ini menantang berbagai pemahaman dan praktik keagamaan yang membatasi kasih Allah hanya pada kelompok tertentu.
Hukum Taurat dan Kelompok Keagamaan pada Zaman Yesus
Hukum Taurat merupakan hukum yang diberikan Allah kepada bangsa Israel melalui Musa sebagai pedoman hidup umat dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. Dalam tradisi Yahudi, Hukum Taurat menjadi bagian penting dari kehidupan beriman dan hubungan umat dengan Allah.
Pada zaman Yesus, terdapat kelompok-kelompok keagamaan dengan peran yang berbeda, antara lain ahli Taurat dan orang Farisi.
Ahli Taurat dikenal sebagai orang-orang yang mempelajari, menafsirkan, dan mengajarkan Hukum Taurat. Sementara itu, orang Farisi menekankan pelaksanaan Hukum Taurat serta tradisi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi Yahudi kemudian dikenal 613 ketetapan atau mitzvot, yang secara tradisional dibagi menjadi 248 perintah dan 365 larangan. Banyaknya ketetapan tersebut menunjukkan betapa luasnya pembahasan mengenai kehidupan beragama dalam tradisi Yahudi.
Dalam Injil, kita menemukan beberapa peristiwa ketika Yesus berhadapan dengan para pemimpin atau ahli agama yang mempertanyakan ajaran-Nya. Mereka ingin mengetahui bagaimana Yesus memahami Hukum Taurat. Salah satu peristiwa itu dikisahkan dalam Injil Minggu Biasa XXX, ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Matius 22:36).
Pertanyaan tersebut menjadi kesempatan bagi Yesus untuk menegaskan inti seluruh hukum Allah, yakni kasih.
Mengasihi Allah dan Mengasihi Sesama
Sesungguhnya, perintah untuk mengasihi Allah telah lama menjadi bagian utama iman Israel. Perintah ini terdapat dalam doa Shema Israel, yang bersumber dari Ulangan 6:4–5 dan menjadi doa penting dalam kehidupan orang Yahudi.
Yesus mengutip perintah tersebut:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37).
Namun, Yesus tidak berhenti pada perintah pertama. Ia melanjutkan dengan perintah kedua:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39).
Kemudian, Yesus menegaskan bahwa pada kedua perintah inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:40).
Dengan demikian, kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Iman bukan hanya soal menjalankan aturan agama, mengikuti upacara, atau mengetahui berbagai ketentuan keagamaan. Iman harus tampak dalam tindakan nyata yang mencerminkan kasih, keadilan, belas kasih, dan kepedulian terhadap orang lain.
Siapakah Sesama Kita?
Pertanyaan mengenai sesama manusia merupakan persoalan penting dalam pewartaan Yesus. Dalam masyarakat pada zaman-Nya, batas-batas sosial dan keagamaan dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain. Hubungan dengan kelompok yang berbeda terkadang dibatasi oleh prasangka dan aturan kemurnian.
Yesus memperluas cakrawala pemahaman tentang kasih kepada sesama. Sesama bukan hanya orang yang berasal dari bangsa, suku, agama, atau kelompok yang sama. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati dan layak menerima kasih.
Hal ini sejalan dengan berbagai tindakan Yesus yang menjangkau mereka yang tersisih, menyembuhkan orang sakit, menyapa orang berdosa, dan menjalin hubungan dengan mereka yang sering diabaikan masyarakat.
Yesus sendiri menegaskan bahwa kedatangan-Nya bukanlah untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17). Dalam terang ajaran-Nya, hukum tidak boleh dipisahkan dari tujuan utamanya, yaitu menuntun manusia untuk hidup dalam kasih dan kesetiaan kepada Allah.
Karena itu, mengasihi sesama berarti melampaui batas-batas kepentingan pribadi dan kelompok. Kasih menuntut kita untuk menghargai perbedaan, menolong mereka yang membutuhkan, mengampuni, serta memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.
Pesan Iman: Hukum Kasih sebagai Pedoman Hidup
Saudara-saudari terkasih,
Hukum kasih merupakan inti ajaran Yesus dan harus menjadi pedoman hidup setiap orang Kristiani. Kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Kasih kepada Allah tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa dan ibadat. Kasih itu harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, sekolah, dan kehidupan menggereja.
Kita tidak dapat mengaku mengasihi Allah jika kita membenci sesama, merendahkan martabat orang lain, membiarkan ketidakadilan, atau menutup mata terhadap penderitaan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Sebagai orang Kristiani, kita dipanggil untuk menjadikan kasih sebagai dasar setiap perkataan, keputusan, dan tindakan. Jangan sampai aturan, jabatan, perbedaan pendapat, atau kepentingan kelompok membuat kita kehilangan semangat untuk mengasihi.
Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di situlah inti iman kita dan di situlah kehendak Allah diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Semoga Sabda Tuhan pada Minggu Biasa XXX ini meneguhkan kita untuk semakin setia kepada Allah dan semakin peduli terhadap sesama.
Amin.
Bacaan Liturgi Minggu Biasa XXX
- Bacaan I: Keluaran 22:20–26
- Bacaan II: 1 Tesalonika 1:5c–10
- Injil: Matius 22:34–40
Penulis : Rm. Cris Tau, Pr.
Editor : Del Neonub | Komsos Sta. Helena Camplong







