Barangkali selama ini kita merasa biasa-biasa saja, tanpa masalah. Namun dengan kacamata baru yang saya berikan ini, kita akan melihat bahwa hal-hal lumrah dan yang saya dan anda jalani sehari-hari ternyata bermasalah (hahhaahahha).
Stres yang Luar Biasa
Selama ini seolah-olah yang terjangkit penyakit stres hanyalah orang dewasa. Anak-anak dan remaja dianggap steril dari stres. Orangtua dan guru kurang menyadari bahwa anak-anak pun mengalami stres, khususnya yang disebabkan oleh ulah orang dewasa atas nama pendidikan.
Mengapa anak-anak dan remaja stres? Pulang dari sekolah, makan, dan segera bersiap-siap untuk les di sore hari. Sekembali dari les sore langsung siapkan diri untuk belajar bersama di malam hari. Pulang dari belajar di malam hari mengerjakan PR yang belum rampung, kadang-kadang ada 4 pekerjaan rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekarang anda diberi kebebasan untuk mengungkapkan perasaan anda. Mungkin pada kesempatan ini anda dapat mengungkapkan stres yang anda alami selama ini baik di rumah maupun di sekolah. Mungkin situasi seperti inilah yang sering membuat anda membandel, bahkan ada yang mulai merokok dan minum alkohol.
Anda mungkin mengalami stres oleh karena terpaksa melakukan sesuatu bukan atas kehendak sendiri dan mengejar apa yang tidak anda butuhkan. Sementara itu, anak-anak dan remaja tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau membebaskan diri. Setiap bentuk protes dianggap sebagai sikap melawan.
Sementara itu orang dewasa hanya berpikir bahwa “tujuan baik”, dan anak-anak serta remaja harus setuju dengannya. Perlakuan seperti ini membuat anak-anak diperlakukan seperti kuda beban yang ditutup matanya dan diberi beban berlebihan sekehendak tuannya. Tugasnya hanya jalan dan jalan mengikuti tujuan tuannya. Berhenti berarti dicambuk! Anak-anak seperti tong sampah yang dijejali dengan barang-barang yang mereka tidak butuhkan.
Anda harus mengingat bahwa Tuhan tidak menciptakan sampah. Anak-anak dan remaja memiliki pribadi yang unik, yang pada batas-batas tertentu memiliki hak atas dirinya sendiri. Gunakanlah kacamata baru anda untuk mengubah situasi stres menjadi suasana nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anda.
Demi Masa Depan
Tidak diragukan lagi bahwa orangtua sangat cinta dan perhatian terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu mereka mau berkorban demi masa depan buah hati mereka. Namun, demi masa depan, banyak orang kehilangan masa kini. Semua kegiatan di rumah, di sekolah, dirancang oleh orangtua dan guru demi masa depan anak-anak. Dengan demikian, kegembiraan anak-anak pada masa sekarang ini direnggut oleh berbagai kegiatan untuk mempersiapkan masa depan mereka.
Proses pembelajaran identik dengan kegiatan “mencetak” atau “memproduksi” makhluk-makhluk masa depan. Dan atas nama masa depan inilah orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya seolah berhak memaksakan kehendak mereka. Padahal, seperti kata Kahlil Gibran, “Kendati dalam mimpi sekalipun, kita tak akan mampu mencapai masa depan anak-anak.” Anak-anak sendirilah pemilik masa depan, bahkan orangtuanya sekalipun tidak berhak atas masa depan anaknya.
Selain itu, cara anak-anak dan remaja menghayati dan mengalami “waktu” sangat berbeda dari orang dewasa. Orangtua memiliki waktu linier yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Hal inilah yang menyebabkan orang dewasa membuat rencana dan bahkan merencanakan waktunya bagi anak-anak.
Bagi anak-anak, waktu bersifat holistik, utuh, hanya sekarang dan saat ini yang berjalan sangat lamban. Anak-anak/remaja yang sedang bermain pasti lupa waktu. Mereka menikmati waktu saat ini dan tidak peduli apa yang akan terjadi hari esok serta melupakan apa yang sudah berlalu. Oleh karena itu, dua anak yang berkelahi di pagi hari, sore harinya mereka sudah bermain bersama-sama lagi.
Jadi, apa yang sedang dialami anak-anak pada masa sekarang akan membentuk masa depan mereka. Anak-anak yang sekarang ini tidak merasakan kebahagiaan hidup, sulit baginya akan merasakan kebahagiaan hidup di masa depan. Biarkanlah anak-anak menikmati hidup yang sedang berlangsung. Akan tetapi bukan berarti orangtua dan guru harus memenuhi segala keinginan dan memanjakan anak-anak. Yang terpenting, orangtua dan guru bisa menghargai anak-anak untuk menjalani masanya tanpa menciptakan beban masa depan ciptaan orangtua dan guru-guru.
Ambisi Orangtua
Anda bisa saksikan sering diadakan lomba-lomba di sekolah, di kota-kota, di mal, tempat rekreasi, lapangan. Lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba fashion, menyanyi, menari, atau ketangkasan lain. Bahkan lomba-lomba ini sering untuk mempromosikan produk. Lomba-lomba ini sering lebih untuk memenuhi ambisi orangtua daripada minat anak-anak untuk memenangi lomba.
Bagi anak-anak, sesungguhnya lomba-lomba ini bisa menjadi ajang pembelajaran untuk mengukur kemampuan, menumbuhkan keberanian untuk mengekspresikan diri, dan membangun rasa percaya diri asalkan sejak awal disadari bahwa setiap lomba selalu menghasilkan “orang yang menang” dan “orang yang kalah”. Celakanya, jumlah yang kalah jauh lebih banyak daripada jumlah yang menang. Apakah guru pendamping dan orangtua sudah menyiapkan mental anak-anak untuk menerima kekalahan?
Ada ambisi orangtua untuk mengumpulkan piala yang biasanya memaksa anak-anak mengikuti berbagai macam kursus dan les. Memang ada anak yang mampu memenuhi ambisi orangtua, namun sebagian besar tidak berhasil. Maka, biarkanlah anak-anak tumbuh menjadi diri mereka sendiri karena sang juara sejati tidak lahir dari lomba-lomba yang diadakan di tempat umum, melainkan melalui pergulatan hidup dalam mengatasi setiap keterbatasan diri. Sebab anak sedang berproses untuk terus-menerus lahir menjadi manusia baru.
Seorang ibu terus-menerus mengimpikan piala dan piagam penghargaan. Suatu waktu ia membawa anak-anaknya ke dokter jiwa untuk memeriksakan mengapa sampai mereka semua tidak pernah mendapat satu piala penghargaan pun dalam setiap lomba yang diikutinya. Setelah pemeriksaan ternyata anak-anak semuanya sehat mental. Lalu dokter meminta ibunya diperiksa. Ternyata ibunya yang sakit jiwa.
Anak-anak memang membutuhkan piala penghargaan, namun piala penghargaan yang paling berharga ialah pujian dan penerimaan tulus yang diterima anak-anak dari orangtua dan dari guru. Setiap hari ada lomba di sekolah dan di rumah. Sesungguhnya pujian dan penghargaan dari guru-guru adalah piala penghargaan yang luar biasa.
Ambisi adalah sesuatu yang positif karena akan memacu untuk berprestasi, namun ambisi hanya diperuntukkan bagi diri sendiri. Ambisi anda ya untuk anda sendiri, berambisilah menjadi sukses. Setiap anak harus menciptakan ambisinya sendiri. Orangtua dan guru hanya membantu untuk mewujudkan ambisi anaknya.
Memandang Cakrawala Baru
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya