Obor Lintas Agama dari Pelosok SD Muhammadiyah Tli’u

Di SD Muhammadiyah Mnelabesa Tli’u TTS, Toleransi Bukan Jargon tapi Praktik Hidup

- Editor

Jumat, 13 Februari 2026 - 01:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: Muhammadiya.or.id

Sumber: Muhammadiya.or.id

TIMOR TENGAH SELATAN (muhammadiyah.or.id) – Pendidikan Muhammadiyah membuktikan diri sebagai pilar inklusivitas di tanah Timor. Di SD Muhammadiyah Mnelabesa, Desa Tli’u, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), toleransi bukan sekadar pemanis kata, melainkan napas kehidupan sehari-hari.

​Sekolah yang berdiri sejak 2016 ini menjadi potret nyata kerukunan di tengah keberagaman. Meski membawa label identitas agama tertentu, SD Muhammadiyah Mnelabesa membuka pintu lebar bagi anak-anak dari berbagai latar belakang keyakinan.

​Potret Kerukunan di Pedalaman NTT

​Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mnelambesa, Abdul Muntolib Natonis, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah (UM) Kupang yang sempat berkunjung ke lokasi pada Selasa (10/2).

BACA JUGA  TNI-POLRI,THS-THM,IKSPI & PSHT dalam PAM Natal di Paroki Nurobo

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Saat ini, sekolah tersebut mendidik 50 siswa. Menariknya, komposisi siswa di sini sangat majemuk:

  • 20 Siswa Muslim
  • 20 Siswa Kristen
  • 10 Siswa Katolik

​”Di Desa Tli’u hanya ada dua sekolah dasar, yaitu SD Muhammadiyah Mnelabesa dan SD Negeri Lao. Keduanya menjadi obor bagi masa depan anak-anak di pedalaman ini,” ujar Pak Abdul.

​Ada Pelajaran Agama Kristen di Sekolah Muhammadiyah

​Bukti paling konkret dari inklusivitas sekolah ini adalah kurikulumnya. Tidak hanya mengajarkan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), sekolah ini juga menyediakan mata pelajaran Agama Kristen.

BACA JUGA  Ini Pernyataan Lengkap Kabid Bansos Dinsos yang dianggap Merugikan Pihak Kantor Pos

​Pelajaran ini diampu oleh Defritus Nuban, seorang guru honorer yang telah mengabdi sejak 2017. Pihak sekolah bahkan sedang berupaya menyediakan guru untuk siswa beragama Katolik.

​“Untuk Katolik, kemarin kami sudah bertemu Romo dan sudah ada (calon guru), namun saat ini yang bersangkutan belum datang lagi,” jelas Defritus.

​Meski hanya lulusan Paket C, semangat Defritus tidak padam. Pria berusia 41 tahun ini kini sedang berjuang mencari peluang untuk melanjutkan studi S1 di FKIP UM Kupang demi meningkatkan kualitas pengajarannya.

​Bertahan di Tengah Keterbatasan Fasilitas

​Di balik semangat toleransi yang tinggi, kondisi infrastruktur sekolah masih sangat memprihatinkan. Dari enam ruang kelas yang tersedia, dua di antaranya (kelas 1 dan 2) belum memiliki meja dan kursi.

BACA JUGA  Rakor, Ketua Komisi I DPRD Belu Minta Inspektorat sediakan Link Aduan Masyarakat

​”Anak-anak terpaksa belajar di lantai. Tapi mereka tetap menjalaninya dengan gembira,” ungkap Defritus penuh haru.

​Selain fasilitas gedung, akses menuju Desa Tli’u juga menjadi tantangan besar. Berjarak sekitar 166 km dari Kota Kupang, perjalanan menuju sekolah ini harus melewati jalanan rusak dan jembatan putus. Namun, di tengah isolasi geografis tersebut, SD Muhammadiyah Mnelabesa tetap tegak berdiri sebagai simbol indahnya perbedaan di Bumi Cendana.

Sumber: Muhammadiyah.or.id | editor: Del Neonub

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup
FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM
Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia
Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim
Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar
Komisi X DPR Usul Gaji Minimal Guru Rp 5 Juta, Bonnie Triyana: Anggaran Kita Cukup
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 23:21 WITA

200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:48 WITA

Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Kamis, 23 April 2026 - 06:32 WITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Minggu, 19 April 2026 - 13:55 WITA

Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komsos Sedunia ke-60

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:10 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Bahasa, Doa, dan Komunikasi: Jalan Menuju Persatuan dalam Kristus

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:58 WITA

OPINI

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

error: Content is protected !!