Daftar Isi
4. José Gregorio Hernández (Venezuela, 1864–1919)

José Gregorio Hernández, seorang dokter, ilmuwan, dan orang awam Venezuela, dihormati sebagai “dokter orang miskin.”
Lahir pada 26 Oktober 1864, di Isnotú di negara bagian Trujillo, Venezuela, ia kehilangan ibunya pada usia 8 tahun.
Ia belajar kedokteran di Caracas dan menerima dana pemerintah untuk melanjutkan studinya di Paris pada tahun 1889 selama dua tahun. Setelah kembali ke Venezuela, ia menjadi profesor di Universitas Pusat Caracas, di mana ia memulai setiap pelajaran dengan tanda salib.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hernández menghadiri Misa harian, membawakan obat-obatan dan perawatan bagi kaum miskin, serta mengucapkan kaul sebagai seorang Fransiskan Ordo Ketiga. Pada tahun 1908, ia meninggalkan kaulnya dan masuk biara Kartusian yang tertutup di Farneta, Italia. Namun, sembilan bulan kemudian ia jatuh sakit dan atasannya memerintahkannya untuk kembali ke Venezuela guna memulihkan diri.
Setelah beberapa waktu, Hernández menyimpulkan bahwa tetap menjadi orang awam adalah kehendak Tuhan. Ia kemudian memutuskan untuk memperjuangkan pengudusan sebagai seorang Katolik teladan dengan menjadi dokter dan memuliakan Tuhan dengan melayani orang sakit. Ia mengabdikan dirinya untuk penelitian akademis dan memperdalam dedikasinya untuk melayani kaum miskin.
Suatu hari, ketika dokter tersebut pergi mengambil obat untuk seorang perempuan tua yang miskin, ia tertabrak mobil. Ia meninggal di rumah sakit pada tanggal 29 Juni 1919. Ia dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 30 April 2021.
5. Maria Troncatti (Italia/Ekuador, 1883–1969)

Maria Troncatti, seorang biarawati Salesian Italia, menghabiskan hampir lima dekade sebagai misionaris di hutan hujan Amazon Ekuador di antara masyarakat Pribumi Shuar.
Tumbuh besar di Italia, Troncatti menunjukkan minat pada kehidupan religius sejak usia muda. Ia mengikrarkan kaul pertamanya sebagai anggota Suster-suster Putri Maria Penolong Umat Kristiani, yang juga dikenal sebagai Suster-suster Salesian Don Bosco, pada tahun 1908.
Selama Perang Dunia I, Suster Maria menjalani pelatihan di bidang perawatan kesehatan dan bekerja sebagai perawat Palang Merah di sebuah rumah sakit militer. Pada tahun 1925, beliau memulai misinya melayani suku Indian Shuar di hutan Amazon di bagian tenggara Ekuador. Selama 44 tahun, beliau dikenal sebagai “Madrecita” atau “ibu kecil” oleh semua orang di desa. Beliau tidak hanya melayani sebagai ahli bedah, dokter gigi, perawat, ahli ortopedi, dan ahli anestesi, tetapi juga seorang katekis yang setia membagikan Injil kepada semua orang yang dilayaninya.
Suster Maria meninggal dunia pada usia 86 tahun pada 25 Agustus 1969 dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ia dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2012.
6. María del Carmen Rendiles Martínez (Venezuela, 1903–1977)

Carmen Elena Rendiles Martínez lahir di Caracas, Venezuela, tanpa lengan kirinya dan diberi lengan palsu yang ia gunakan sepanjang hidupnya.
Pada tahun 1918, Martínez mulai merasakan panggilan hidup religius, tetapi disabilitasnya dianggap sebagai alasan penolakan oleh beberapa kongregasi religius pada masa itu. Akhirnya, ia bergabung dengan Servants of the Eucharist pada tahun 1927 dan mengambil nama María Carmen. Ia pernah berkata: “Aku ingin menjadi kudus. Aku ingin berkata seperti Santo Paulus: Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.”
Ketika komunitas religiusnya menuntut otonomi dari rumah induknya di Prancis pada tahun 1965, ia kemudian mendirikan Serikat Pelayan Yesus di Caracas untuk melanjutkan misi devosi Ekaristi. Ia menjabat sebagai superior jenderal kongregasi tersebut sejak tahun 1969 hingga ia meninggal dunia pada tahun 1977 karena influenza.
Ia dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus pada tahun 2018 dan akan menjadi orang suci perempuan pertama di Venezuela.
7. Vincenza Maria Poloni (Italia, 1802–1855)

Vincenza Maria Poloni, seorang biarawati Italia, mendirikan Kongregasi Suster-Suster Belas Kasih Verona untuk merawat orang miskin, sakit, dan lanjut usia.
Lahir sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara, ia menemukan panggilannya di bawah bimbingan Beato Charles Steeb saat ia mengabdikan waktunya untuk bekerja dengan orang miskin, orang lanjut usia, dan orang sakit kronis.
Pada tahun 1836, selama wabah kolera, ia bekerja tanpa lelah di unit gawat darurat, membahayakan kesehatannya sendiri. Pada tahun 1840, ia mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk merawat orang sakit dan lansia, dan mulai menjalani gaya hidup yang serupa dengan seorang biarawati—doa yang khusyuk, jadwal yang ketat, dan pelayanan kasih yang total kepada sesama.
Pada 10 September 1848, Poloni mendirikan Suster-Suster Belas Kasih Verona dan mengambil nama Vincenza Maria. Motonya, “Melayani Kristus dalam Kaum Miskin,” menjadi fondasi kongregasinya, yang kini dapat ditemukan di tiga benua. Ia wafat pada 11 November 1855 karena tumor yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia dibeatifikasi pada tahun 2008.
Halaman : 1 2







