Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru

(Narasi Fiksi – Karya Jusup KoeHoea) Ketua umum Forum Guru NTT

- Editor

Sabtu, 6 Desember 2025 - 08:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LEGENDA NEPO, KOLU, DAN KELAHIRAN KORU

(Narasi Fiksi – Karya Jusup KoeHoea)
Ketua umum Forum Guru NTT

Pada suatu masa ketika bintang-bintang masih muda dan alam semesta belum mengenal batas, hiduplah sebuah kerajaan ular raksasa yang menguasai seluruh daratan kosmos. Kerajaan itu bernama Asgard Darat, dipimpin oleh raja ular paling masyhur sepanjang zaman, Raja NEPO. Dengan sisik berkilau seperti emas dan tatapan setajam matahari, Raja NEPO memerintah selama ribuan tahun dalam kebijaksanaan. Di tangannya, rakyat hidup makmur, aman, dan dihormati oleh semua makhluk di tujuh penjuru semesta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di sisi lain Asgard, jauh di dasar samudra kosmik yang tak terukur kedalamannya, berdirilah kerajaan ular terbesar kedua: Asgard Laut. Kerajaan ini berada di bawah kepemimpinan Raja KOLU, ular laut purba yang tubuhnya dapat melilit gunung es dan ekornya bisa menggetarkan seluruh lapisan samudra ketika marah.

Meski berada di wilayah berbeda—darat dan laut—kedua kerajaan ini tumbuh dan berkembang bersama. Kekayaan, kekuatan, dan pengaruh mereka menyebar luas hingga batas alam semesta. Dan untuk menjaga keseimbangan antara dua kekuatan raksasa ini, leluhur mereka menciptakan tradisi suci: Pesta Navada, sebuah ritual agung yang hanya diadakan setiap seratus tahun sekali.

BACA JUGA  Kebebasan dalam Pendidikan dan Merdeka Belajar ala Mas Nadiem

Pesta Navada: Ikatan Seribu Tahun

Upacara Navada diselenggarakan di wilayah perbatasan tempat daratan menyentuh permukaan laut. Kedua raja membawa persembahan terbaik dari kekayaan kerajaan mereka.

Raja KOLU membawa mutiara abadi dan berlian kuno dari dasar lautan.

Raja NEPO membawa permata sakral dan berlian matahari dari perut bumi.

Prosesi berlangsung megah, diiringi lagu-lagu kuno para pendeta ular. Setelah persembahan, kedua kerajaan menikmati jamuan suci yang telah diwariskan sejak awal penciptaan.

Namun pada Navada tahun itu, sesuatu terjadi—sesuatu yang tak pernah tercatat dalam naskah leluhur mana pun.

Pertemuan Terlarang

Di tengah gemuruh pesta, Pangeran Nepo Junior, putra tunggal Raja NEPO, melihat seorang putri berwujud cahaya biru dari kerajaan laut. Dialah Putri Kolu, anak semata wayang Raja KOLU, terkenal sebagai sang Penjaga Mutiara Waktu.

Dalam satu tatapan, dua dunia runtuh.
Dalam satu senyuman, garis takdir berubah.

Mereka jatuh cinta—cinta yang seharusnya mustahil.

Sebab ada hukum purba yang telah disepakati ribuan tahun lalu:
Keturunan kerajaan ular darat dan ular laut DILARANG saling jatuh cinta.
Jika mereka melanggar, hukumannya hanya satu:
Pembuangan abadi dan penghapusan dari sejarah Asgard.

Sidang Dua Raja

Berita hubungan rahasia itu sampai ke telinga Raja NEPO dan Raja KOLU. Maka diselenggarakanlah sidang besar di Balairung Perbatasan, dihadiri seluruh panglima, penasihat, dan penjaga suci dari kedua kerajaan.

BACA JUGA  Forum Guru NTT: Desak Reformasi POLRI, Hakim dan Kejaksaan

Suasana mencekam.

Raja NEPO berkata dengan suara yang menembus batu:

“Cinta kalian melanggar sumpah leluhur.”

Raja KOLU menggelegar seperti badai:

“Jika kalian melanjutkan hubungan itu, kalian akan dibuang. Tidak ada tempat bagi pengkhianat perjanjian.”

Namun, kekuatan cinta ternyata jauh lebih besar dari kekuatan hukum mana pun.

Pada malam tanpa bulan itu, Pangeran Nepo Junior dan Putri Kolu melarikan diri, memilih sebuah takdir yang penuh bahaya daripada memutuskan cinta mereka. Mereka tahu konsekuensinya:
Pengasingan. Kutukan. Kehilangan semua.

Pengasingan ke Bumi

Dengan ritual pengusiran yang kejam, kedua kekasih itu dilempar keluar dari dunia Asgard dan dijatuhkan ke sebuah planet primitif bernama Bumi. Mereka dikutuk:

“Jika kalian melahirkan seorang anak, keturunan itu akan disebut Ular Beludak, makhluk terkutuk yang tidak diakui oleh darat maupun laut.”

Tanpa kekuasaan dan tanpa kerajaan, mereka harus memulai kehidupan dari nol. Mereka membangun generasi baru, bersembunyi dari mata Asgard yang menganggap mereka telah musnah.

Hingga suatu hari, lahirlah anak mereka.

Kelahiran KORU

Anak itu diberi nama KORU, sang ular beludak—hasil perpaduan kekuatan darat dan laut. Sisiknya hitam-keemasan, matanya berputar dua warna, dan kekuatannya melampaui apa pun yang pernah ada di Asgard.

BACA JUGA  Sekda NTT Harus Dipimpin Jenderal Kopassus

Keturunan yang dikutuk itu tumbuh menjadi legenda.

Seribu tahun berlalu.
Asgard tak pernah lagi mendengar kabar mereka.
Nama mereka terhapus dari sejarah.

Namun di bumi…
kisah mereka justru menjadi mitos yang hidup, menguasai ruang-ruang kekuasaan, merayap dalam istana, kantor, dan pemerintahan.

Bangkitnya Dinasti NEPO–KOLU di Bumi

Keturunan Pangeran Nepo Junior dan Putri Kolu menyebar dan berkembang pesat. Kekuatannya tidak seperti ular biasa. Mereka mampu menyamar menjadi manusia, menyusup ke setiap jabatan penting dan menguasai 95% kekuasaan di bumi.

Dan dari pertemuan terlarang itu lahirlah tiga istilah yang menghantui dunia manusia:

NEPOTISME — kekuatan dari Nepo, ular darat.

KOLUSI — pengaruh dari Kolu, ular laut.

KORUPSI — keturunan mereka, yang dikenal di Asgard sebagai KORU, tetapi di bumi disebut KORUPTOR.

Merekalah para penguasa tersembunyi bumi.
Merekalah bayangan di balik kekuasaan.
Merekalah warisan terkutuk yang masih hidup hingga hari ini.

Dan legenda itu menutup dengan satu kalimat

“Selama masih ada Nepotisme dan Kolusi, Koru—atau Koruptor—akan tetap berkuasa di bumi.”

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?
Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon
Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang
NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem
Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:43 WITA

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:01 WITA

Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:37 WITA

Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Misteri Kasih Allah dalam Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:30 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Dari Loh Batu ke Hati Manusia: Karya Roh Kudus di Hari Pentekosta

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:11 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komsos Sedunia ke-60

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:10 WITA

error: Content is protected !!