Menembus Debu Jalanan Menuju Nauen: Rosario, Persaudaraan, dan Cerita di Bawah Langit Oktober
Kisah perjalanan umat Kapela Santa Maria Dolorosa Barate mengunjungi empat kepala keluarga di Nauen, Dusun III, Desa Poto, Kamis, 15 Oktober 2026.
Kamis malam, 15 Oktober 2026. Malam mulai merangkul bumi Fatuleu Barat. Di tengah gelapnya malam dan jalanan yang tidak selalu bersahabat, sekelompok umat Katolik dari Komunitas Kapela Santa Maria Dolorosa Barate bersiap melakukan sebuah perjalanan kecil yang menyimpan makna besar: mengunjungi saudara-saudari mereka di Nauen, Dusun III, Desa Poto, untuk berdoa Rosario bersama.
Pukul 19.30 WITA, sebuah mobil pick-up mulai bergerak membawa sekitar belasan orang. Anak-anak, orang muda, hingga orang tua menumpang dalam satu kendaraan. Tidak ada kemewahan dalam perjalanan itu. Tidak pula ada kendaraan khusus yang nyaman. Hanya sebuah pick-up, semangat kebersamaan, dan kerinduan untuk berdoa bersama Bunda Maria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Malam itu, jarak sekitar sembilan kilometer dari pusat Kecamatan Fatuleu Barat menuju Nauen terasa lebih panjang daripada biasanya. Jalanan yang harus dilalui membuat perjalanan berlangsung perlahan. Debu dan kondisi jalan menjadi bagian dari pengalaman yang mesti diterima. Namun, bagi mereka yang ikut serta, perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada sukacita yang tumbuh dalam kebersamaan, ada persaudaraan yang hendak dirawat, dan ada iman yang ingin dirayakan bersama.
Sekitar satu jam kemudian, rombongan tiba di Translok Nauen.
Kampung itu sedang bersiap menyambut sebuah peristiwa bahagia. Sebuah keluarga tengah mempersiapkan pesta pernikahan yang akan berlangsung pada Jumat malam. Musik terdengar dari lokasi acara, menandakan bahwa masyarakat sedang sibuk mempersiapkan hari istimewa tersebut.
Namun, tujuan rombongan malam itu bukanlah pesta. Mereka datang membawa sesuatu yang sederhana, tetapi bermakna: doa.
Rombongan pun mengambil jalur alternatif menuju rumah Bapak Petrus Kolo, salah satu dari empat kepala keluarga yang mereka kunjungi di Nauen. Di rumah itulah, pada pukul 20.30 WITA, doa Rosario dimulai.
Di tengah suasana malam, umat berkumpul. Anak-anak, orang muda, dan orang tua menyatukan hati dalam doa. Salam Maria demi Salam Maria terucap, disertai permohonan dan harapan yang mungkin tidak semuanya terdengar oleh orang lain, tetapi diyakini sampai kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Ada sesuatu yang mengharukan dari perjalanan ini. Mereka datang bukan untuk membawa hadiah atau bantuan materi. Mereka datang untuk menghadirkan diri, menemani, dan berbagi iman. Sebab, dalam kehidupan menggereja, kehadiran sering kali menjadi hadiah yang paling sederhana sekaligus paling berharga.
Ketika Musik Berhenti, Doa Mendapat Ruang
Hal lain yang menarik justru terlihat dari kehidupan masyarakat Nauen sendiri.
Kampung ini memang tidak terlalu besar. Namun, di tengah kehidupan masyarakat yang beragam dan kesibukan mempersiapkan pesta, ada sikap saling menghormati yang patut diapresiasi.
Ketika rombongan mulai berdoa, musik yang sebelumnya terdengar dari lokasi persiapan pesta pernikahan mendadak dihentikan. Suasana menjadi hening. Tidak ada yang meminta dengan cara berlebihan. Tidak pula ada perdebatan. Musik berhenti, dan umat dapat berdoa dengan tenang.
Selama kurang lebih 45 menit, doa Rosario berlangsung dalam suasana khidmat. Di rumah Bapak Petrus Kolo, rangkaian doa itu menjadi kesempatan bagi umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon perlindungan Bunda Maria, serta menyerahkan kehidupan dan keluarga mereka ke dalam penyelenggaraan Ilahi.
Setelah doa selesai, musik kembali terdengar, melanjutkan kemeriahan persiapan pesta pernikahan yang akan digelar keesokan malamnya.
Sebuah peristiwa sederhana, tetapi menyimpan pesan yang mendalam.
Di tengah masyarakat yang beragam, toleransi tidak selalu harus diwujudkan melalui pidato panjang atau slogan besar. Terkadang, toleransi hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memberi ruang kepada sesama untuk berdoa, menghormati keyakinan orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan iman serta rasa syukurnya.
Malam itu, di Nauen, doa Rosario dan persiapan pesta pernikahan berlangsung dalam ruang kehidupan masyarakat yang sama. Yang satu menghadirkan suasana hening dan khidmat, sementara yang lain mempersiapkan sukacita sebuah keluarga. Keduanya dapat berjalan berdampingan karena ada sikap saling menghargai.
Musik yang berhenti selama umat berdoa bukan sekadar jeda dalam sebuah pesta. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kehidupan bersama seharusnya dijalani: ketika seseorang membutuhkan ruang untuk menjalankan keyakinannya, orang lain bersedia menghormatinya.
Di tengah berbagai perbedaan yang kadang menjadi sumber pertentangan, pengalaman seperti ini mengingatkan kita bahwa toleransi masih dapat tumbuh subur melalui tindakan-tindakan sederhana di tengah masyarakat.
Dari Doa ke Meja Jamuan
Doa Rosario memang telah usai, tetapi malam di Nauen belum benar-benar berakhir. Justru setelah doa, ada bagian lain dari kebersamaan yang tidak kalah bermakna: duduk bersama, makan bersama, dan berbagi cerita.
Tuan rumah telah menyiapkan jamuan makan malam bagi rombongan yang datang dari Barate. Kami pun bersantap bersama. Tidak ada suasana kaku, tidak ada jarak yang membatasi. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan doa yang berlangsung khidmat, makanan yang disajikan menjadi bagian dari sukacita malam itu.
Seusai makan, suasana semakin cair. Sebagian mulai merokok, sementara yang lain menikmati ma’ale sirih pinang. Percakapan pun mengalir begitu saja. Cerita demi cerita dibagikan apa adanya, tanpa perlu dibuat-buat. Ada canda, ada tawa, ada pengalaman hidup yang dibicarakan, dan ada kisah-kisah sederhana yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Timor.
Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon, dan tidak ada susunan acara yang harus diikuti. Semua berlangsung secara alami. Orang berbicara, yang lain mendengarkan. Sesekali muncul tawa, lalu percakapan kembali berlanjut.
Di situlah letak indahnya sebuah kunjungan. Kami tidak datang hanya untuk menyelesaikan rangkaian doa Rosario, lalu pulang begitu saja. Kami datang untuk bertemu, mendengar, berbagi, dan merasakan kembali bahwa menjadi bagian dari komunitas berarti bersedia hadir dalam kehidupan satu sama lain.
Dalam tradisi masyarakat Timor, duduk bersama sambil menikmati sirih pinang dan bertukar cerita bukan sekadar kebiasaan mengisi waktu. Ia merupakan bagian dari cara membangun hubungan, merawat persaudaraan, dan mempererat ikatan sosial. Percakapan yang berlangsung tanpa banyak formalitas justru sering kali membuka ruang bagi keakraban yang lebih dalam.
Sirih pinang menjadi teman percakapan, sementara jamuan makan menjadi tanda keramahan tuan rumah. Tidak harus ada pembicaraan yang berat untuk membuat sebuah pertemuan bermakna. Terkadang, cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari sudah cukup untuk mendekatkan orang-orang yang sebelumnya hanya sesekali bertemu.
Malam itu, rumah Bapak Petrus Kolo menjadi ruang perjumpaan. Doa telah menyatukan kami di hadapan Tuhan, sementara jamuan makan dan percakapan mempererat kami sebagai sesama manusia.
Di rumah sederhana itu, kehidupan menggereja menemukan bentuknya yang nyata. Gereja bukan hanya tentang bangunan, altar, atau rangkaian doa yang diucapkan bersama. Gereja juga hadir dalam keramahan tuan rumah, dalam makanan yang dibagikan, dalam cerita yang didengarkan, dan dalam persaudaraan yang tumbuh tanpa dibuat-buat.
Pukul 22.00 WITA: Saatnya Kembali Menembus Debu
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Percakapan yang semula hanya ingin berlangsung sebentar ternyata membawa kami semakin jauh menyusuri malam. Ada keakraban yang membuat orang betah duduk bersama. Seolah-olah perjalanan yang melelahkan dan debu jalanan yang menunggu di luar rumah sejenak terlupakan.
Namun, waktu tidak mungkin berhenti. Jarum jam akhirnya menunjuk pukul 22.00 WITA. Saatnya berpamitan dan kembali ke Barate.
Pick-up hitam milik Om Agus Banusu, yang juga menjabat sebagai Ketua Kapela Santa Maria Dolorosa Barate, kembali menjadi kendaraan yang membawa rombongan pulang. Satu per satu naik, mengambil tempat yang tersedia, lalu perjalanan malam kembali dimulai.
Kali ini, arah perjalanan berbalik: dari Nauen menuju Barate.
Jalanan yang penuh debu kembali harus kami terobos. Pick-up hitam itu bergerak menyusuri jalur yang sama, membawa belasan penumpang yang beberapa jam sebelumnya datang dengan semangat untuk berdoa bersama.
Debu jalanan menjadi teman perjalanan pulang. Tubuh mungkin mulai merasakan lelah setelah beberapa jam beraktivitas. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda. Kami pulang bukan hanya membawa sisa kelelahan perjalanan, melainkan juga membawa pengalaman kebersamaan yang sulit diukur dengan kata-kata.
Sembilan kilometer perjalanan pergi, sembilan kilometer perjalanan pulang. Jarak itu mungkin tidak terlalu jauh jika diukur dengan angka. Namun, perjalanan tersebut menjadi bermakna karena di dalamnya ada niat untuk mengunjungi, kesediaan untuk melayani, dan kerinduan untuk mempererat persaudaraan.
Pick-up hitam itu mungkin bukan kendaraan yang paling nyaman untuk perjalanan malam. Tempat duduk terbatas, udara malam menerpa, dan debu jalanan tak dapat dihindari. Namun, malam itu, kendaraan sederhana tersebut menjadi sarana yang menghubungkan umat, membawa mereka dari satu komunitas ke komunitas lainnya.
Di balik perjalanan itu, ada semangat pelayanan yang tidak selalu terlihat dalam hal-hal besar. Ada orang-orang yang bersedia meluangkan waktu, meninggalkan kenyamanan rumah, dan menempuh perjalanan demi sebuah perjumpaan yang sederhana.
Dan mungkin justru di situlah makna pelayanan itu berada.
Ketika Iman Bertemu dengan Kehidupan
Bagi umat Kapela Santa Maria Dolorosa Barate, kunjungan ke Nauen merupakan bagian dari tradisi doa Rosario pada bulan Oktober. Namun, pengalaman malam itu menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya berbicara tentang devosi kepada Bunda Maria. Ia juga berbicara tentang bagaimana iman menggerakkan umat untuk saling mengunjungi, membangun persaudaraan, dan merawat kehidupan bersama.
Empat kepala keluarga di Nauen menjadi bagian dari perjalanan pastoral kecil ini. Kunjungan tersebut mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah besar, tetapi bisa meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang hadir.
Sebab, iman tidak hanya tumbuh melalui kata-kata yang didengar, melainkan juga melalui kasih yang dirasakan dan persaudaraan yang dialami.
Perjalanan itu juga memperlihatkan bahwa kehidupan menggereja tidak berhenti di dalam gedung kapela. Gereja hidup ketika umat bersedia keluar dari kenyamanan, menempuh perjalanan, mengunjungi keluarga-keluarga, dan membangun persekutuan dalam doa.
Ada doa yang dipanjatkan, ada makanan yang disantap bersama, ada sirih pinang yang dinikmati, dan ada cerita yang dibagikan. Semua itu mungkin tampak biasa, tetapi justru di sanalah kehidupan komunitas mendapatkan maknanya.
Di Nauen, toleransi hadir ketika musik berhenti untuk memberi ruang bagi doa. Keramahan hadir ketika tuan rumah menyambut rombongan dengan jamuan makan malam. Persaudaraan hadir ketika orang-orang duduk bersama, bercerita apa adanya, dan menikmati waktu tanpa harus dibatasi oleh formalitas.
Sementara itu, semangat pelayanan hadir sejak pukul 19.30 WITA, ketika belasan orang menaiki sebuah pick-up dan memulai perjalanan menuju kampung yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari pusat Kecamatan Fatuleu Barat.
Semua berlangsung sederhana. Tidak ada kemegahan. Tidak ada peristiwa besar yang harus diberitakan dengan gegap gempita. Hanya ada sekelompok umat yang ingin berdoa bersama, sebuah keluarga yang membuka pintu rumahnya, dan masyarakat yang memberi ruang bagi sesamanya untuk menjalankan keyakinan.
Namun, bukankah kehidupan beriman memang sering kali bertumbuh melalui hal-hal sederhana seperti itu?
Malam semakin larut ketika pick-up hitam Om Agus Banusu membawa rombongan kembali ke Barate. Jalanan Nauen–Barate yang berdebu menjadi penutup perjalanan malam itu. Tetapi debu yang melekat pada kendaraan dan tubuh hanyalah bagian kecil dari pengalaman yang dibawa pulang.
Yang lebih penting adalah kenangan tentang doa, keramahan, toleransi, dan percakapan yang mempererat persaudaraan.
Sebab, Gereja bukan hanya tentang doa yang diucapkan bersama, tetapi juga tentang meja makan yang dibagikan, cerita yang didengarkan, keramahan yang diberikan, dan kesediaan untuk berjalan bersama, bahkan ketika jalan yang dilalui penuh debu.
Dari Barate menuju Nauen, sebuah pick-up membawa belasan orang. Mereka datang dengan iman, diterima dengan keramahan, lalu pulang dengan cerita.
Malam itu, Rosario bukan hanya rangkaian doa. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan umat, keluarga, dan masyarakat dalam semangat persaudaraan.
Dan ketika musik berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi doa, ketika makanan dibagikan tanpa sekat, dan ketika percakapan berlangsung hingga pukul sepuluh malam, kita belajar bahwa toleransi dan persaudaraan tidak selalu membutuhkan kata-kata besar.
Terkadang, keduanya cukup diwujudkan dengan memberi ruang, membuka pintu rumah, menyajikan makanan, dan duduk bersama sebagai saudara.
Di jalanan Nauen–Barate yang berdebu itu, kami pulang membawa lebih dari sekadar kenangan perjalanan. Kami membawa pengingat bahwa iman menjadi hidup ketika diwujudkan dalam perjumpaan, persaudaraan, dan kasih kepada sesama.
Kamis malam, 15 Oktober 2026. Dari Barate menuju Nauen, dalam doa kepada Bunda Maria, dalam keramahan sebuah keluarga, dan dalam persaudaraan yang tumbuh di bawah langit Oktober.
Penulis : Del Neonub
Editor : Del Neonub







