Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Oleh Adelbertus F. Neonub - Guru di SMAN 2 Fatuleu Barat - Kab. Kupang

- Editor

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala”, dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Media sosial kita akhir-akhir ini mirip panggung pengadilan terbuka: bising, emosional, dan gampang sekali menjatuhkan vonis. Contoh paling nyata terlihat dari amukan akun Facebook bernama Melianus Alopada yang mengecam keras aksi aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Kupang yang terekam asyik berjoget “bosan hala” pada hari Jumat, 21 Agustus, di saat saudara-saudara kita di Flores sedang berduka karena bencana. Ijinkan saya dengan bantuan kecerdasan buatan, mencurahkan isi kepala saya lewat tulisan di bawah ini. semoga berkenan! Pastikan membacanya sampai selesai barulah memberi komentar. Salam Bosan Hala

1. Ketika Kemarahan Menyiram Rata dan Siapa yang Bertanggung Jawab

Meskipun akun tersebut tidak secara gamblang menuliskan frasa “ASN Kabupaten Kupang”, namun siapa pun yang melihat rangkaian konteksnya, mulai dari penulisan kata “Semau” hingga visual orang-orang berseragam khaki yang berjoget, pasti tahu persis ke mana arah telunjuk kemarahan itu ditujukan. Sasaran tembaknya jelas: para ASN yang terekam ikut berjoget. Alhasil, cap “goblok” menyiram rata semua yang ada di dalam video tanpa kecuali.

BACA JUGA  Memahami Hukum Sebagai Kebutuhan || Opini

Di titik inilah kita patut bertanya: siapa yang harus bertanggung jawab?

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Tanggung jawab ini tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada para pegawai bawahan yang hadir karena instruksi atau sekadar meluapkan rasa lega setelah berbulan-bulan menunggu kepastian gaji. Tanggung jawab terbesar justru berada di pundak pimpinan atau pemangku kebijakan. Seorang pemimpin yang bijak seharusnya memiliki kepekaan membaca situasi (reading the room). Ketika saudara-saudara kita di Flores sedang berduka, memilih merayakan pencairan hak dengan selebrasi visual yang terbuka di ruang publik adalah sebuah kekeliruan membaca ruang. Pimpinanlah yang seharusnya mengarahkan bentuk perayaan yang lebih senyap, bermartabat, dan tahu menempatkan diri, sehingga anak buahnya tidak terjebak menjadi bahan amuk publik.

2. Dapur, Hak yang Tertunda, dan Ruang Batin Manusia

Sebagai seorang guru yang juga sering keluyuran di media sosial, saya paham betul bahwa visual yang “seksi” (seperti video orang berjoget) paling cepat memancing klik, amarah, dan jempol warganet. Tapi, mari kita fokus pada konteks di balik video itu.

Bupati Kupang mengumpulkan para ASN. Baik PNS maupun P3K pada hari Jumat 21 Agustus itu bukan untuk PESTA PORA dan merayakan penderitaan orang lain. Hari itu, ada kabar gembira yang sudah berbulan-bulan dinantikan dengan cemas: pembayaran gaji P3K dan Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) PNS yang sempat macet akhirnya mendapat kejelasan.

BACA JUGA  “Jalan, Kebenaran, dan Hidup”: Pendidikan yang Menyelamatkan Generasi dari Jurang Moral

Bagi orang luar, goyang itu terlihat tidak berempati. Tapi bagi seorang guru atau pegawai kecil, kepastian gaji adalah urusan perut, dapur, dan kelangsungan hidup anak-anak di rumah setelah berbulan-bulan tekor. Manusia punya kapasitas batin untuk merasa lega karena dapurnya mengepul kembali, sembari tetap mendoakan dan menggalang uluran tangan bagi korban bencana di Flores. Terlebih pimpinan daerah juga sudah mengarahkan penggalangan dana sukarela.

Namun, di sisi lain, kita juga perlu mengerem nalar kita agar tidak terjebak dalam arus generalisasi yang keliru. Kedukaan akibat bencana tidak perlu digeneralisasi secara berlebihan, dan duka orang lain pun tidak boleh “dijual” sekadar untuk meraup perhatian atau memantik sensasi di media sosial. Menjual duka berarti menjadikan penderitaan sesama sebagai alat pukul atau panggung emosional untuk menghakimi pihak lain secara membabi buta, seolah-olah mereka yang bergembira atas hak ekonominya yang cair otomatis menjadi penjahat kemanusiaan. Bencana menuntut empati dan uluran tangan nyata, bukan saling lempar caci maki atau mempolitisasi air mata korban demi panggung dunia maya.

BACA JUGA  Liga Pelajar, dan Sekantung Sirih Pinang dari Amarasi (Barat)

3. Catatan Penutup: Menjaga Nurani, Merawat Nalar

Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, saya selalu mengajarkan kepada murid-murid saya di kelas bahwa kata-kata dan tulisan adalah cerminan isi kepala. Media sosial hari ini terlalu sering memancing kita memproduksi kalimat-kalimat penuh amarah sebelum isi kepala kita dingin. Akan panjang kalau saya urai banyak tentang kondiri literasi kita. (kita urai di kesempatan lain)

Polemik goyang “bosan hala” di Kab. Kupang memberi kita pelajaran berharga. Negara wajib menepati hak kesejahteraan pegawainya agar mereka tidak tersiksa penantian, dan di sisi lain, para pelayan publik juga dituntut punya kepekaan rasa yang selaras dengan denyut penderitaan rakyat.

Mari belajar merawat empati kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Flores, namun mari juga belajar adil dalam menilai. Kritik kebijakannya, ingatkan kurang pekadya situasi, tapi jangan biarkan jempol kita ikut menghakimi martabat orang secara serampangan, sambil tetap menjaga agar nurani kita tidak pernah mati bagi mereka yang sedang berduka di sana.

Catatan: Bosan Hala / Dolo Bosan Hala, sebuah lagu dari Flores Timur karya Andre Witak dengan Aransemen Musik Martin Kurman ini cukup akrab di telinga orang-orang NTT. linknya di sini : https://youtu.be/fW10Zz5Fqr0?si=1g8ZTQLVKdDKHGI7

Facebook Coment

Penulis : Adelbertus F. Neonub

Editor : Del Neonub

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi
Dari Konten ke Pewartaan: Misi Komsos Menjangkau Dunia
Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya
Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?
Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:45 WITA

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Senin, 1 Juni 2026 - 10:47 WITA

Dari Konten ke Pewartaan: Misi Komsos Menjangkau Dunia

Senin, 1 Juni 2026 - 08:49 WITA

Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 10:36 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 22 Agu 2026 - 20:32 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman

Sabtu, 15 Agu 2026 - 07:36 WITA

Oplus_131072

KOTBAH & RENUNGAN

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 8 Agu 2026 - 06:01 WITA

error: Content is protected !!