Daftar Isi
Mengenal Arti Kekudusan
Dalam Liturgi Gereja Katolik, kita sangat akrab dengan istilah “Kudus” atau “Kekudusan”. Kata ini membawa nuansa makna yang mendalam: suci, sakral, mahamulia, dan agung. Pada hakikatnya, kekudusan melekat erat pada martabat Allah. Hanya Allah yang Kudus. Namun, meski hanya Dia yang Mahakudus, Allah tetap mengundang kita untuk mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, tentu dengan memperhatikan syarat-syarat yang telah Ia tetapkan.
Ketika Musa dipanggil Allah untuk menerima Hukum Taurat, ia merasa takut dan gemetar saat menghadap Yang Kudus. Di Perjanjian Baru, Yesus hadir sebagai bukti nyata kehadiran Allah di tengah-tengah kita. Dalam ajaran-Nya, Yesus terus mengingatkan agar kita senantiasa berusaha mencapai kesempurnaan hidup di dalam Allah yang Kudus:
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48)
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

MURAH! Hubungi 08113810024
Hal ini menegaskan bahwa panggilan Yesus untuk mengikuti-Nya adalah sebuah panggilan menuju keselamatan, kebahagiaan, dan kesempurnaan hidup di dalam Allah.
Teladan Penghormatan terhadap Kekudusan
Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Kedua Raja-Raja, kita diwartakan tentang bagaimana kekudusan mendatangkan berkat melimpah. Dikisahkan tentang seorang perempuan kaya di Sunem yang dengan senang hati melayani Nabi Elisa, seorang abdi Allah yang kudus.
Sebagai tanda hormat terhadap kekudusan Elisa, perempuan itu menyediakan sebuah kamar khusus lengkap dengan segala perabotannya agar Nabi Elisa dapat menginap setiap kali berkunjung ke kota itu. Sebagai ungkapan terima kasih, Nabi Elisa menubuatkan bahwa perempuan yang mandul itu akan melahirkan seorang anak laki-laki (2Raj. 4:16). Kisah ini menunjukkan bahwa Allah menyediakan ganjaran yang pantas bagi mereka yang terpaut pada kekudusan. Perempuan Sunem tersebut memperoleh berkat yang luar biasa dari Allah yang Kudus karena ia telah menghormati kekudusan nabi-Nya.
Syarat-Syarat Mengikuti Yesus Menuju Kekudusan
Sementara itu, Injil hari ini menggambarkan keterkaitan antara kekudusan dan ganjaran yang disediakan Allah bagi mereka yang hidup mengejar kesucian tersebut. Setiap orang dipanggil Allah untuk hidup dalam kekudusan melalui sebuah proses yang panjang.
Berdasarkan Injil, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan untuk mencapai kekudusan:
Kerelaan Melepaskan Kelekatan: Kesediaan untuk tidak terikat secara berlebihan, bahkan dengan orang-orang yang paling kita kasihi (ayah, ibu, anak laki-laki, atau anak perempuan) melebihi kasih kita kepada Kristus.
Kesiapan Memikul Salib: Kesediaan untuk menyangkal diri dan memikul salib masing-masing demi mengikuti Yesus.
Kesediaan Kehilangan Nyawa: Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Yesus, ia akan memperolehnya kembali.
Oleh karena itu, sikap mengejar kesempurnaan dan kekudusan hidup adalah sebuah keharusan yang mulia dan terpuji.
Pesan Iman
Pertama: Panggilan untuk mengejar kesempurnaan dan kekudusan hidup telah menggerakkan banyak orang kudus (para santo dan santa), baik yang terkenal maupun yang tersembunyi, yang kini menjadi para pelindung dan pendoa bagi kita.
Kedua: Tuhan selalu menyediakan balasan dan berkat yang berlimpah bagi setiap orang yang bertekun dalam berbuat baik serta menghormati kekudusan-Nya.
Panduan Liturgi Hari Minggu:
Hari Minggu Biasa XIII
Bacaan I: 2Raj. 4:8-11, 14-16a
Bacaan II: Rom. 6:3-4, 8-11
Injil: Mat. 10:37-42
Penulis : Rm. Chris Taus
Editor : Del Neonub







