Perkelahian Antar Siswa Di SDI Anametan, Orang Tua Tempuh Jalur Hukum

- Editor

Jumat, 13 September 2024 - 10:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malaka – matatimor-net ; Dominikus Nahak Mau, salah seorang siswa kelas II SD Inpres Anametan harus mengalami luka hingga satu buah gigi depannya rubuh dan berdarah akibat perkelahian saat proses pembelajaran berlangsung di sekolah.

Sesuai penjelasan Ibu Oktaviana Abuk, Orang Tua Wali dari Dominikus Nahak Mau, kepada media ini via telepon pada Kamis (12/09/24) menceritakan bahwa, Domi saat itu sedang menulis tugas dari gurunya. Kemudian ia, Domi (korban) berdiri dari tempat duduknya untuk mengembalikan alat tulis (pulpen) milik teman kelasnya. Tetapi Fabianus Ulu Bria yang juga merupakan siswa kelas II SD Inpres Anametan langsung menendang Domi (korban) dari belakang dan satu tendangan dari depan mengenai mulut hingga menyebabkan salah satu gigi bagian depan milik Domi rubuh.

BACA JUGA  Kebijakan Gereja Katolik dalam Pembanguan Hidup Berkeluarga (1)

“Hari Selasa itu, saya tulis do’a Bapak Kami. Terus saya berdiri mau kasih kawan punya bolpen (alat tulis) yang saya pinjam. Ifan (Fabianus Ulu Bria) dari belakang tendang saya. Saya balik dia tendang lagi di saya punya mulut,” urai Oktaviana Abuk, mengulang penjelasan sang anak (Domi).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melihat hal ini, Oktaviana Abuk, orang tua dari Domi, mendatangi pihak sekolah untuk meminta pertanggung jawaban dari pihak sekolah, karena perkelahian tersebut terjadi sementara pelajaran berlangsung. Namun bukan mendapatkan jalan keluar, melainkan pihak sekolah seolah mengekang dirinya untuk harus menerima kejadian itu sebagai musibah.

Perkelahian Antar Siswa Di SDI Anametan, Orang Tua Tempuh Jalur Hukum

“Kejadiannya hari Selasa, saya mau ke sekolah untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban dari orang tua dengan sekolah. Hanya dari pihak sekolah bilang biar anggap saja hari sial,” terang Oktaviana, mengulang pembicaraan saat di sekolah.

BACA JUGA  Raja yang Mengorbankan Diri: Akhir Tahun Liturgi yang Penuh Makna

Pernyataan “anggap saja hari sial” ini membuat orang tua korban merasa tidak puas, ungkap Oktaviana.

Menurut Oktaviana Abuk, pihak sekolah seharusnya berlaku adil dan memiliki tanggung jawab terhadap seluruh kenyamanan dan keselamatan siswa di sekolah selama proses pembelajaran berlangsung.

“Pihak sekolah harus harus berlaku adil. Masa anak-anak berkelahi di ruang belajar sampai gigi rubuh, harus terima sebagai hari sial. Saya tidak terima, pihak sekolah dan orang tua pelaku harus bertanggung jawab,” ketusnya.

BACA JUGA  Luput dari Perhatian Pemda Belu, Sejumlah Warga Fohomea Memilih Pasrah Pada Nasibnya

Ibu korban pun menandaskan bahwa jika masalah ini tidak menemui jalan keluar, maka dirinya akan menempuh jalur hukum. Sebab sudah dua kali ia mendatangi pihak sekolah namun, sampai saat ini belum ada kepastian terkait masalah tersebut.

“Saya sudah ke sekolah dua kali. Hari Rabu pagi, terus hari ini lagi. Tetapi pihak sekolah meminta saya untuk tempuh jalur damai tanpa pertanggungjawaban terhadap luka dan darah anak saya. Apa lagi sampai gigi rubuh,” tandas Oktaviana Abuk.

Oktaviana pun menegaskan bahwa kalau penangan masalah ini masih berbelit, ia akan menempuh jalur hukum.

“Kalau pihak sekolah urus masalah ini lama. Saya mau lapor polisi saja. Biar ada titik terang,” tutup Oktaviana Abuk. (*Tim).

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu
Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai
Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat
Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait
SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek
Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”
Paus Leo XIV di UNESCO, Perdamaian, Pendidikan, dan Martabat Manusia di Era AI
Kadis Pendidikan NTT Apresiasi Inovasi MKKS SMA Kabupaten Kupang Hadapi TKA 2026
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:50 WITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:39 WITA

Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai

Rabu, 30 September 2026 - 06:09 WITA

Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait

Senin, 28 September 2026 - 13:57 WITA

SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek

Senin, 28 September 2026 - 05:09 WITA

Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”

Berita Terbaru

Gambar oleh Komsos Sta. Helena

Iman & Gereja

Undangan Perjamuan Tuhan dan Kesiapan Hati Kita

Sabtu, 10 Okt 2026 - 07:31 WITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY amankan 1.820 liter solar dalam dua dugaan upaya penyelundupan di perbatasan RI–Timor Leste, Kabupaten Belu, NTT.

BERITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

Jumat, 9 Okt 2026 - 09:50 WITA

Gambar Olahan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Sta. Helena Camplong

Iman & Gereja

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 3 Okt 2026 - 07:05 WITA

Gambar dihasilkan dengan Kecerdasan Buatan (ChatGPT)

PENDIDIKAN

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO

Kamis, 1 Okt 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!