Secara fisik manusia sangat lemah: ia tidak mampu terbang, tidak dapat lari secepat kuda, tidak mampu berenang selincah angsa dan kekuatan tubuhnya tidak sehebat banteng. Namun ia memiliki keunggulan pada akal budi dan membangun visi atau impian. Masa depan bangsa ini terletak pada pendidikan.
Pendidikan jangan dibatasi pada “pintar” dan “cerdas” sebatas angka-angka rapor atau rengking. Lebih konyol lagi sebatas pelajaran Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa. Anak-anak dianggap cerdas kalau nilainya tinggi. Lebih konyol lagi, sekolah-sekolah berlomba-lomba mengikrarkan diri sebagai “sekolah unggul”.
Sekolah semacam ini hanya menambah jam pelajaran dari pagi hingga malam dengan kegiatan “menghafal soal-soal”. Anak-anak yang unggul harus belajar dua kali lebih lama dari anak-anak yang biasa-biasa saja. Ini berarti untuk menamatkan SMP dan SMA mereka membutuhkan 6 tahun. Kalau begini, anak-anak ini unggul atau terbelakang? Rupanya kita terus memproduksi sampah-sampah pendidikan, padahal “Tuhan tidak menciptakan Sampah”. Apakah pendidikan akan terus menciptakan sampah buat anak-anaknya sendiri?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak Ada Anak Bodoh
Kita tetap menggunakan kacamata “TTMS” = Tuhan tidak menciptakan Sampah. Berdasarkan pemikiran ala Gardner, maka kita harus berani membuang kata “bodoh, tolol, lamban, abnormal” untuk anak-anak dan remaja. Kita harus membangun keyakinan baru bahwa sesungguhnya tidak ada anak bodoh. Atau kita harus berani mengatakan bahwa setiap kita adalah anak cerdas. Tidak ada lagi anak bodoh dan anak cerdas, yang ada hanyalah perbedaan jenis kombinasi kecerdasan.
Delapan Kecerdasan Majemuk
- Kecerdasan Linguistik – mampu berbicara lancar, bercerita, mengemukakan pendapat, menulis.
- Kecerdasan Matematis-Logis – mampu berhitung, berpikir kritis, ingin tahu.
- Kecerdasan Spasial – mampu membayangkan benda, membaca peta, membuat patung, memperkirakan ukuran.
- Kecerdasan Kinestetik – senang olahraga, menari, memanjat, bergerak bebas.
- Kecerdasan Musikal – suka menyanyi, memainkan alat musik, cepat menirukan lagu.
- Kecerdasan Interpersonal – punya banyak teman, pandai bergaul, disukai orang lain.
- Kecerdasan Intrapersonal – pendiam, suka menulis buku harian, introspektif, mengenal diri.
- Kecerdasan Naturalis – suka merawat tanaman, memelihara hewan, mengumpulkan benda alam.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, barangkali anda tertawa, terkejut, atau tidak percaya. Sebab ternyata anda memiliki banyak kecerdasan, tidak “bodoh” atau “kurang cerdas” seperti yang anda duga selama ini.
Itulah kenyataannya: tidak ada anak bodoh. Tuhan tidak menciptakan Sampah! Ia mempunyai rencana terhadap setiap anak yang dilahirkan di dunia ini dan Ia membekalinya dengan potensi tertentu untuk menjalani hidup ini.
Anak-Anak yang Bahagia
Kebahagiaan jangan ditunggu sampai anda menjadi orang dewasa, karena hanya anak-anak yang “hari ini” merasa bahagia memiliki peluang besar menjadi orang dewasa yang bahagia kelak. Merasa bahagia bukan berarti menjauhkan segala kesulitan seperti bebas mengikuti pelajaran atau bebas mengikuti ujian. Melainkan anak yang merasa bahagia berarti anak-anak yang mampu menghargai dan menerima secara positif apa pun keadaannya saat ini.
Barbara DeAngelis mengatakan, “Jika hari ini kamu tidak bisa menikmati uang 10 dolar karena menginginkan 1000 dolar maka nantinya ketika kamu memiliki 1000 dolar pun kamu tidak akan bahagia.”
Anak yang bahagia adalah anak yang menerima diri apa adanya, tanpa syarat. Sayangnya orangtua sering kali menuntut anak-anak mereka untuk membalas pengorbanan mereka. Tuntutan balas budi itu sering berupa prestasi, nama baik, atau hal-hal yang tidak mengecewakan orangtua.
Anak yang bahagia adalah mereka yang memiliki orangtua atau orang dewasa lainnya yang mau memberikan waktu untuk hadir bersama mereka, mendengarkan, dan mengerti apa yang dirasakan, dipikirkan, bahkan dibayangkan. Mereka bahagia ketika memiliki orang dewasa yang mau mendengarkan dengan hati sehingga menjadi andalan yang bisa dipercaya.
Anak-anak yang bahagia adalah mereka yang mampu mengenali kelebihan dan kekurangannya dengan wajar, tanpa dibebani untuk selalu juara atau sempurna. Mereka bisa tertawa melihat kesalahan dan kekonyolannya sendiri serta belajar dari kesalahan itu. Bernyanyi dan menari menjadi ekspresi jiwanya, menghargai keunggulan alam, dan mampu mengapresiasi karya seni apa pun bentuknya.
Anak-anak yang bahagia adalah mereka yang punya waktu untuk bermain dan bercanda dengan teman sebayanya, tidak menghabiskan waktu untuk les semata-mata. Dunia ini sangat kaya dan luas, jangan hanya dibatasi angka 1 sampai 9 seperti dalam matematika. Mereka belajar menjalin persahabatan, memelihara, dan mempertahankannya.
Anak-anak yang berbahagia adalah mereka yang berdiri pada potensinya sendiri, tanpa harus diukur melalui potensi orang lain. Mereka tidak mabuk dengan lomba-lomba popularitas karbitan karena ambisi orangtua atau guru. Mereka yang dengan diam-diam menerbangkan daya imajinasi dengan sayap kreativitasnya, apa pun penilaian orang lain.
Ingatlah bahwa hanya anak-anak yang bahagia yang akan mampu membahagiakan orang lain, yang mampu mengubah planet bumi ini menjadi tempat yang lebih baik.







