Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV

Keadilan Allah dan Kecemburuan Manusia: “Yang Terakhir Akan Menjadi yang Terdahulu”

Renungan Minggu Biasa XXV – Oleh Rm. Chris Taus, Pr – Paroki Sta. Helena Camplong
Bacaan: Yesaya 55:6–9; Matius 20:1–16

Kita memiliki falsafah hidup bernegara, yakni Pancasila. Salah satu sila yang sering menjadi pergumulan dalam kehidupan bersama adalah sila kelima: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kita sudah merdeka selama 81 tahun, tetapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial masih menjadi kenyataan yang kita hadapi. Ketidakadilan sosial masih terasa di tengah masyarakat. Yang miskin sering tetap berada dalam kemiskinan, sementara mereka yang kaya memiliki peluang untuk terus bertambah kaya.

Dalam diri setiap manusia terdapat berbagai sikap: ada iri hati, keadilan, kemurahan hati, dan berbagai sikap lainnya. Iri hati muncul ketika seseorang melihat orang lain menerima lebih banyak, terutama ketika menyangkut sesuatu yang dianggap menjadi hak bersama. Iri hati dapat melahirkan berbagai reaksi: bersungut-sungut, memprotes, bahkan bertengkar.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita tentang keadilan menurut Allah melalui perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur.

Dikisahkan, seorang tuan rumah keluar mencari pekerja untuk bekerja di kebun anggurnya. Ia membuat kesepakatan dengan para pekerja: upah mereka adalah satu dinar sehari.

Para pekerja mulai bekerja pada waktu yang berbeda-beda. Ada yang masuk sejak pagi, ada yang mulai bekerja pada siang hari, bahkan ada yang baru masuk pada pukul lima sore.

Persoalan muncul ketika tiba saatnya pembayaran upah. Pemilik kebun anggur memberikan satu dinar kepada semua pekerja, termasuk mereka yang baru bekerja pada sore hari. Bahkan pembayaran dimulai dari mereka yang datang terakhir.

BACA JUGA  Kotbah Katolik Minggu 25/09/2022 Minggu Biasa XXVI

Bagi para pekerja yang datang terakhir, tentu mereka merasa senang. Namun, bagi mereka yang sudah bekerja sejak pagi, muncul rasa tidak puas. Mereka merasa diperlakukan tidak adil.

Bukankah mereka bekerja lebih lama?

Di sinilah letak pesan penting dari perumpamaan Yesus. Pemilik kebun anggur sebenarnya membayar sesuai dengan kesepakatan. Mereka yang bekerja sejak pagi telah menyepakati upah satu dinar. Jadi, tidak ada hak mereka yang dikurangi.

Namun, kemurahan hati sang pemilik kebun justru menimbulkan kecemburuan.

Pemilik kebun berkata:

“Bukankah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Pertanyaan ini sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada para pekerja dalam perumpamaan. Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita.

Apakah kita merasa iri ketika Tuhan bermurah hati kepada orang lain?

Kadang-kadang kita merasa bahwa karena kita sudah lama melayani Tuhan, lebih banyak berkorban, atau lebih dahulu menjadi bagian dari Gereja, maka kita pantas mendapatkan lebih banyak daripada orang lain.

Padahal, keselamatan bukanlah hasil dari jasa manusia semata. Keselamatan adalah rahmat dan kemurahan hati Allah.

Karena itu Yesus berkata:

“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Apa maksudnya?

Pada zaman Yesus, para pemimpin agama dan sebagian orang Israel merasa bangga karena mereka adalah bangsa pilihan Allah. Mereka merasa memiliki tempat yang istimewa di hadapan Tuhan. Bahkan, mereka memandang bangsa-bangsa lain sebagai orang asing dan berdosa yang tidak layak memperoleh keselamatan.

BACA JUGA  Makna Pembaptisan Yesus: Solidaritas Tuhan dengan Manusia Berdosa

Namun, Yesus membalik cara pandang tersebut.

Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang yang mau menerima rahmat-Nya. Orang-orang yang dianggap kecil, berdosa, bahkan tersisih, dapat mengalami pertobatan dan menerima keselamatan.

Karena itu, dalam berbagai pengajaran-Nya, Yesus menunjukkan bahwa orang-orang yang selama ini dianggap “terakhir” justru dapat mendahului mereka yang merasa dirinya “terdahulu”.

Kelak akan datang orang-orang dari Timur dan Barat, Utara dan Selatan untuk duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Kerajaan Allah.

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang bertobat pun mendapatkan tempat dalam Kerajaan Allah.

Di sinilah kita menemukan paradoks Kerajaan Allah: Allah tidak bekerja berdasarkan ukuran dan perhitungan manusia.

Manusia sering menghitung berdasarkan jasa, lama bekerja, kedudukan, kekayaan, status sosial, atau pengorbanan. Allah melihat hati manusia dan memberikan rahmat-Nya dengan kemurahan hati.

Karena itu, persoalan terbesar bukanlah apakah orang lain menerima lebih banyak daripada kita. Persoalan yang lebih penting adalah: apakah hati kita mampu bersyukur ketika Tuhan bermurah hati kepada orang lain?

Kita juga dapat membawa pesan Injil ini ke dalam kehidupan sosial kita.

Keadilan sosial tidak boleh hanya menjadi slogan. Keadilan harus diwujudkan dalam kehidupan nyata: dalam keluarga, masyarakat, sekolah, tempat kerja, Gereja, dan dalam kehidupan bernegara.

Kita harus berjuang agar setiap orang memperoleh kesempatan yang layak untuk hidup bermartabat. Namun, perjuangan untuk keadilan juga harus dibarengi dengan kemurahan hati, sebab keadilan tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan hati.

BACA JUGA  Kotbah Katolik Minggu, 28/08/2022, Minggu Biasa XXII

Demikian pula, kemurahan hati tanpa keadilan dapat menciptakan ketimpangan.

Karena itu, kita membutuhkan keduanya: keadilan yang berlandaskan kasih dan kemurahan hati yang tidak mengabaikan keadilan.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan:

“Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”

Seruan ini menjadi penting bagi kita. Jangan menunggu sampai kesempatan berlalu. Jangan merasa terlalu tua untuk bertobat. Jangan merasa terlalu berdosa untuk kembali kepada Tuhan.

Selama Tuhan masih memberi kesempatan, mari kita mencari-Nya.

Pesan Iman

Pertama, jangan iri terhadap kemurahan hati Tuhan kepada orang lain.
Rahmat Tuhan bukan sesuatu yang harus kita perebutkan. Ketika Tuhan mengangkat dan memberkati orang lain, hendaknya kita mampu bersyukur.

Kedua, jangan merasa paling berjasa di hadapan Tuhan.
Apa yang kita miliki dan apa yang kita lakukan pada akhirnya merupakan anugerah Tuhan.

Ketiga, berjuanglah untuk menghadirkan keadilan sosial.
Iman kepada Tuhan harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang miskin, kecil, lemah, dan tersisih.

Keempat, carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemui.
Jangan menunda pertobatan. Jangan menunda berbuat baik. Jangan menunda berdamai dengan sesama.

Pada akhirnya, kita semua dipanggil untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan karena kita merasa paling layak, tetapi karena Allah murah hati dan penuh belas kasih.

Maka, marilah kita berjuang untuk masuk dalam Kerajaan Surga dengan hati yang rendah, mengandalkan rahmat dan kemurahan hati Tuhan, serta senantiasa mencari dan menemukan-Nya selama Ia masih berkenan ditemui.

Amin.

Facebook Coment
del neonub
del neonub
Articles: 1183
error: Content is protected !!