Kebebasan dalam Pendidikan dan Merdeka Belajar ala Mas Nadiem

- Editor

Jumat, 21 Januari 2022 - 02:34 WITA

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Pendidikan sebagai sarana untuk memulihkan kemanusiaan lebih menjurus untuk menghidupkan kesadaran manusianya sendiri, dan mengembangkan unsur-unsur kemanusiaan yang lebih luhur, yang dalam kaca mata Freire sendiri maksudnya untuk menghancurkan rantai belenggu dan bersifat memerdekakan.

Di mana setelah ia menyadari sebagai insan yang terjajah, pertama yang harus dilakukan adalah lepas dari keterkungkungan itu, menyadarkan si penindas bahwa sikap itu tidaklah manusiawi kemudian yang terakhir setelah bebas ia urung melakukan aksi balas dendam menjadi si penindas.

Di Indonesia, saat ini, ada Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang sedang mengusung program baru dalam dunia pendidikan. Seolah “menggugat” dunia pendidikan yang selama ini berjalan di bumi pertiwi, Nadiem mencanangkan program Merdeka Belajar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sistem pendidikan di Indonesia, menurut Nadiem sifatnya sangat administratif. Guru hanya mengajarkan apa yang tertera di silabus dan mengejar silabus hingga tuntas.

Hal inilah yang membuatnya mengusung konsep Merdeka Belajar. Konsep ini membebaskan sekolah untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi.

Merdeka Belajar esensinya adalah kemerdekaan berpikir. Ini harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya kepada para murid. Menurut Nadiem, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Dengan konsep merdeka belajar, semua pihak dalam sistem pendidikan akan merasa merdeka.

Merdeka dari aturan, baik pemerintah atau lembaga sekolah itu sendiri. Guru merdeka berkreasi dalam kelasnya sendiri, murid merdeka dalam menentukan arah dan level yang cocok untuknya. Sistem pengajaran juga berubah dari yang semula hanya di dalam kelas menjadi di luar kelas.

Dengan demikian, nuansa pembelajaran akan lebih nyaman. Murid dapat berdiskusi lebih nyaman dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing.

Akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Dari konsep Pendidikan menurut Paulo Freire dan konsep Belajar Merdeka yang dicanangkan Pak Nadiem Makarim, jelas ada persamaan dalam ciri-ciri maupun tujuannya.

Hal tersebut dapat dilihat bahwa pendidikan menurut Paulo Freire menekankan bahwa siswa diberi kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan dan atau keterampilan yang dia miliki.

Begitupun dengan konsep belajar merdeka, siswa juga diberi kesempatan untuk mengeksplore diri tidak bergantung pada guru atau pendidik. Konsep Pendidikan Paulo Freire dan Belajar Merdeka dapat membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab dan mandiri.

Hingga saat ini filsafat pendidikan yang membebaskan ala Paulo Freire nampak makin relevan. Ketika pendidikan kita masih fokus pada pengendalian, transfer pengetahuan, komunikasi belajar mengajar yang asimetris, memperlakukan mahasiswa sebagai pembelajar dan guru atau dosen sebagai pengajar dan sumber utama, suasana pendidikan yang menekan, tidak menggembirakan, semua itu oleh Freire dianggap sebagai bentuk penindasan.

Pendidikan dan proses belajar mengajar seharusnya membebaskan, menjadikan siswa sebagai subyek, dosen atau pengajar sebagai pendamping atau fasilitator yang memfasilitasi mahasiswa menemukan dirinya, kekuatan dan talentanya, passion untuk mengobservasi dan mengeksplorasi lingkungan dan memahaminya, menjelajah dan mengembangkan sendiri pengetahuan sesuai kebutuhannya.

Melalui cara itulah transformasi struktur dan sistem sosial dimungkinkan terjadi.

Bagaimana kondisi pendidikan Indonesia saat ini, sudahkah menerapkan metode yang ideal atau malah justru sebaliknya—tambah acak adut? Apakah masalah-masalah klise yang timbul disebabkan oleh ketidakbecusan mendudukkan pendidikan baik secara konsep maupun praktik?

Apa karena kesalahpahaman dalam memaknai pendidikan, kurangnya metode-metode belajar-mengajar atau barangkali sekolah tak lagi dijunjung seperti niat awalnya, yaitu memulihkan kemanusiaan, upaya penyadaran dan membebaskan? Hanya dengan patokan inilah, kita bisa berharap lebih banyak akan nasib dan cita pendidikan bangsa di masa yang akan datang.

Pendidikan yang ideal, seharusnya berorientasi kepada nilai-nilai humanisme. Humanisme pendidikan yang dimaksud Freire adalah mengembalikan kodrat manusia menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau objek. Seyogyanya sistem pendidikan kita di Indonesia ikut  menjadi kekuatan penyadar dan pembebas dari kondisi ketertindasan.

Kupang, 10 Mei 2021

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang
NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem
Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai
Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru
Forum Guru NTT: Apresiasi Pembayaran Tunjangan Sertifikasi Tepat Waktu
Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:43 WITA

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:01 WITA

Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 12:56 WITA

Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang

Senin, 29 Desember 2025 - 00:57 WITA

NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem

Minggu, 28 Desember 2025 - 07:44 WITA

Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai

Berita Terbaru

MATA BERITA

Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia

Minggu, 19 Apr 2026 - 13:55 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Tuhan dalam Keseharian

Sabtu, 18 Apr 2026 - 06:16 WITA

MATA BERITA

Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim

Kamis, 16 Apr 2026 - 08:35 WITA

MATA BERITA

Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:15 WITA

error: Content is protected !!
Exit mobile version