Gubernur Buka ETMC 2025 di Ende: Sepak Bola Harus Jadi Ruang Persaudaraan & Kebangkitan Ekonomi

Tangkapan Layar di Bidora Channel Youtube

ENDE, matatimor.net — Stadion Marilonga bergemuruh, Minggu malam (9/11/2025). Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan pesta pembukaan El Tari Memorial Cup (ETMC) ke-34, ajang sepak bola terbesar di Nusa Tenggara Timur.

Panggung megah di tengah lapangan menampilkan tarian kolosal Flobamora, kolaborasi ratusan pelajar dan mahasiswa Ende. Gerak mereka menggambarkan semangat persatuan, sportivitas, dan kekayaan budaya dari berbagai kabupaten di NTT. Dentuman musik, sorak penonton, dan letusan kembang api membuat malam itu benar-benar terasa seperti pesta rakyat.

“Sepak Bola Menyatukan Kita”

Dalam sambutannya, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, menegaskan bahwa ETMC bukan hanya turnamen sepak bola, melainkan juga ruang perjumpaan yang menyatukan masyarakat NTT dari berbagai latar belakang.

“Selain menjadi ajang kompetisi olahraga, ETMC ini adalah ruang pertemuan budaya dan semangat persaudaraan kita. Dari lapangan bola, kita belajar gotong royong, sportivitas, dan persatuan,” ujar Melki di hadapan ribuan penonton yang memadati Stadion Marilonga.

Ia juga menyoroti perlunya pembangunan stadion yang lebih layak dan berstandar nasional di setiap kabupaten.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Tapi kita butuh fasilitas yang memadai. Pemerintah provinsi siap bekerja sama dengan kabupaten dan kota untuk membangun stadion yang membanggakan,” katanya.

Gubernur menambahkan bahwa turnamen ini juga menjadi momentum kebangkitan ekonomi lokal.

“ETMC tidak hanya tentang bola. Ini juga soal UMKM, pariwisata, dan ekonomi rakyat. Kita mau NTT tumbuh lewat semangat kebersamaan,” ujarnya.

Sport dan Budaya, Dua Nafas dalam Satu Ajang

Ketua Panitia Drs. Dominikus Minggu Mere, yang juga Wakil Bupati Ende, mengatakan tema tahun ini — Sport and Culture — dipilih untuk menunjukkan bahwa olahraga dan budaya bisa berjalan seiring.

“Turnamen ini bukan cuma soal siapa juara, tapi bagaimana anak muda kita belajar nilai-nilai sportivitas dan cinta budaya daerah,” katanya.

Dominikus mengungkapkan, sebanyak 28 tim dari seluruh kabupaten dan kota di NTT akan berlaga mulai 9 November hingga 5 Desember 2025. Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat Ende yang menyambut tamu dari seluruh NTT dengan ramah.

PSSI NTT: Saatnya Sepak Bola Jadi Industri

Sementara itu, Ketua Asprov PSSI NTT Riski Iboy menilai sepak bola NTT kini memiliki daya tarik luar biasa.

“Di provinsi lain, liga daerah kadang sepi penonton. Tapi di NTT, stadion selalu penuh. Ini potensi besar. Sepak bola kita harus jadi industri,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa dari ETMC ini akan dipilih tiga tim terbaik untuk mewakili NTT di tingkat nasional.

“Kalau mau hasil besar, umpannya juga harus bagus. Stadion dan pembinaan usia muda adalah umpan terbaik untuk mencetak pemain berkualitas,” ujarnya.

Ende Tunjukkan Diri Sebagai Tuan Rumah yang Hangat

Meski Bupati Ende, Yosef Benediktus Tote Badeoda, tidak dapat hadir karena sedang mengikuti pendidikan kepala daerah di Lemhannas RI, penyelenggaraan ETMC tetap berjalan lancar. Wakil Bupati Ende hadir mewakili pemerintah daerah dan melepas tim tuan rumah Perse Ende yang langsung melakoni laga perdana melawan Citra Bakti Ngada FC.

Warga tampak antusias. Pedagang kaki lima, pengrajin lokal, dan pelaku UMKM memadati sekitar stadion. Keberadaan turnamen ini benar-benar membawa denyut ekonomi baru bagi masyarakat Ende.

Piala Gubernur NTT 2025 atau ETMC ke-34 di Ende bukan sekadar pesta bola — ia adalah perayaan semangat Flobamora: satu hati, satu daerah, dan satu kebanggaan.