Warisan yang Tak Terpahat dalam Ijazah
Ayah adalah monumen hidup bagi kejayaan masa lalu. Bayangkan, memulai langkah dari petak sempit tata usaha sebagai pegawai kecil, ia berhasil mendaki hingga ke puncak sebagai Kepala Dinas. Bagi generasinya, itu adalah mukjizat. Ayah, dengan ijazah SMA “tempo doeloe”, mampu menaklukkan birokrasi berkat ketekunan yang keras kepala, disiplin yang kaku, dan loyalitas tanpa syarat kepada atasan.
Baginya, menjadi abdi negara adalah kasta tertinggi.
“Anak-anakku,” ucapnya setiap kali kami duduk melingkar di ruang tengah, suara baritonnya penuh wibawa, “Bersekolahlah. Kejar ijazahmu, berbaktilah pada negeri. Jabatan, gaji besar, dan jaminan hari tua akan datang menjemputmu.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi saya yang masih kecil, kata-kata Ayah bukan sekadar nasihat; itu adalah nyanyian malaikat. Saya percaya penuh bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya bermimpi menjadi pegawai yang lebih hebat darinya. Namun, semesta punya cara unik untuk membelokkan takdir.
Semua bermula dari perkara sepele: wesel yang terlambat.
Di usia dua puluh tahun, saat menuntut ilmu di pulau seberang, saya memutuskan bekerja sebagai pesuruh di sebuah biro iklan sabun cuci demi menyambung hidup. Ayah kecewa berat, tapi saya tetap melangkah. Sifat jujur dan disiplin yang ia wariskan ternyata tumbuh subur di dunia swasta. Dalam setahun, dari pesuruh, saya dipercaya memegang administrasi dan dihadiahi motor baru.
Pelan-pelan, saya mulai membangun kerajaan kecil saya. Uang hasil jual motor pemberian Ayah saya simpan sebagai modal awal. Saat tabungan menggemuk, saya menulis surat: “Ayah, alihkan saja uang weselku untuk keperluan lain.”
Ayah murka. Ia terbang menyusul saya, mendebat saya habis-habisan. “Gaji Ayah masih cukup membiayaimu sampai gelar Doktor!” tegasnya. Ia tidak mengerti bahwa saya sedang belajar cara “mempekerjakan uang”, bukan “bekerja untuk uang”.
Hingga suatu hari, badai itu datang. Ayah berhenti mengirim wesel setelah mendengar saya putus kuliah. Ia cemas, menelepon berkali-kali, mengingatkan betapa amannya menjadi pegawai pemerintah. Saya hanya menjawab lirih, “Akan selalu saya ingat nasihat Ayah.”
Saya memilih jalan Bill Gates ketimbang jalan birokrasi. Dengan tabungan yang ada, saya membeli rumah sederhana, menyewakan kamar-kamarnya kepada sesama mahasiswa, dan membangun kantor iklan sendiri di sisa ruang yang ada.
Tahun-tahun berganti. Menjelang pensiunnya, Ayah berkunjung. Ia tertegun melihat saya bertahan di bangunan kecil itu selama enam tahun, tanpa tahu bahwa di luar sana, saya sudah memiliki dua belas rumah kontrakan.
“Kini saya bisa pensiun dini, Yah,” seloroh saya saat mengantarnya ke bandara. “Di usia 32 ini, uanglah yang bekerja untuk saya.” Ayah terdiam. Namun, sebelum masuk ke gerbang keberangkatan, ia menepuk bahu saya. “Teruskan usahamu. Maaf, Ayah salah menilaimu.”
Masa senja Ayah ternyata tidak seindah nyanyiannya dulu. Lima tahun setelah pensiun, tabungannya ludes. Penyakit mulai menggerogoti tubuhnya yang renta. Gaji pensiunnya hanya separuh dari gaji aktif—tak cukup untuk menutup biaya rumah sakit yang mencekik.
Hati saya perih saat mendengar cerita adik saya. Ayah, sang mantan Kepala Dinas, sempat diabaikan di rumah sakit pemerintah karena urusan asuransi yang berbelit. Mereka butuh uang tunai, bukan sekadar janji administrasi. Akhirnya, sang abdi negara itu pulang dan sembuh hanya berkat ramuan dukun kampung.
Ayah adalah korban dari perubahan zaman yang tidak sempat ia pelajari. Ia terlalu sibuk mengejar pangkat hingga lupa bahwa dunia telah bergeser dari era industri ke era informasi. Ia merasa aman dengan slip gaji, tanpa menyadari bahwa umur manusia bisa lebih panjang daripada umur uang di bank.
Kini, saya berdiri di antara dua bayangan besar. Ayah, sang pejabat jujur yang pensiun dengan tangan hampa, dan mantan bos saya, seorang lulusan SD yang lihai membaca angka dan bebas merdeka di usia tiga puluh.
Saya berutang budi pada keduanya. Ayah mengajari saya cara bermimpi, dan bos saya mengajari saya cara mengeksekusi mimpi itu. Kepada Anda yang membaca ini, ingatlah satu hal: sukses dalam hidup bukan tentang siapa Anda saat ini, tapi bagaimana Anda berani membentuk diri Anda menjadi siapa di masa depan.
Pesan Penulis: Terkadang, bakti terbaik kepada orang tua bukan dengan mengikuti jejak kakinya, melainkan dengan melampaui garis finis yang tak sempat mereka capai
Penulis : Prisko Virgo
Editor : Del