Menjual Angka, Menggadaikan Martabat: Refleksi Jujur di Tengah Pusaran Kecurangan TKA
Oleh: Adelbertus F. Neonub, S.Pd.,Gr.
Catatan Penulis: Kejujuran adalah mata uang yang paling langka hari ini. Oleh karena itu, mari kita mulai dengan pengakuan yang jujur: tulisan ini saya susun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Mengapa? Karena di era ketika kejujuran akademik pun mulai diperdebatkan, mengakui alat bantu yang kita gunakan adalah bentuk paling sederhana dari memelihara akal sehat.
Di media sosial, publik pendidikan di Nusa Tenggara Timur kembali dikejutkan oleh daftar sekolah yang diduga melakukan kecurangan dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sebagai seorang guru yang setiap hari bergelut di ruang kelas, dan diamanahi sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kupang, kabar ini tidak sekadar mampir sebagai angin lalu. Kabar ini meninggalkan sesak di dada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sehari sebelum TKA digelar, saya sempat membuat sebuah gambar imbauan terbuka. Saya ingatkan rekan-rekan dan anak-anak didik kita untuk menjunjung tinggi kejujuran. Saya tulis sebuah kalimat sebagai caption gambar imbauan itu. Itu kalimat yang terus bergolak dalam kepala saya hingga hari ini: “Apa gunanya mendapat nilai tinggi kalau hasil dari kecurangan?”
Tentu, saya tidak sedang menuding sekolah-sekolah yang namanya tercantum dalam daftar tersebut benar-benar melakukan kecurangan secara sengaja untuk mendongkrak angka. Namun, ketika asap itu mengepul, pasti ada api di baliknya. Dan api itu bernama obsesi.
Mereduksi Pendidikan Menjadi Sekadar Angka
Mari kita tanyakan kembali pada nurani kita paling dalam: untuk apa TKA diadakan?
Instrumen asesmen seperti ini seharusnya berfungsi sebagai cermin diagnostik. Ia adalah alat ukur yang jujur untuk melihat sejauh mana efektivitas proses pembelajaran, sejauh mana daya serap murid selama bertahun-tahun duduk di bangku sekolah, serta di mana letak kelemahan kurikulum yang harus diperbaiki ke depan.
Namun, apa yang terjadi di lapangan? Seringkali cermin itu pecah atau sengaja dikaburkan. TKA telah bergeser fungsi dari alat evaluasi menjadi ajang “balap karung” gengsi institusi. Sekolah berlomba-lomba memamerkan rata-rata nilai tertinggi, seolah-olah masa depan peradaban ditentukan oleh selembar transkrip angka yang bersih tanpa noda—meskipun diperoleh dengan cara yang kotor.
Jika orientasinya adalah angka, lalu apa yang sedang kita kejar? Ketika hasil akhir dihalalkan dengan cara menepikan proses, kita sedang mendidik satu generasi untuk menjadi pembohong yang dilegalkan secara sistemik. Kita mengajarkan anak-anak muda kita bahwa kebohongan adalah strategi bertahan hidup yang mujarab.
Teknologi Canggih dan Benteng Bernama Nurani
Kita sering berbicara tentang pengamanan digital. Kita mendiskusikan server yang lebih ketat, token yang diacak, pengawas silang, hingga kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan.
Namun, mari kita renungkan kembali: secanggih apa pun teknologi diciptakan dengan sekuritas tingkat tinggi, ia tidak akan pernah mampu mengunci integritas manusia. Sistem yang paling canggih sekalipun akan selalu menemukan celah jika mental manusianya sudah keropos.
Semua kembali pada nilai-nilai kehidupan (values) yang dipegang oleh setiap individu. Ketika seorang pendidik atau lembaga memilih untuk berkompromi dengan kecurangan, teknologi setinggi apa pun hanya akan menjadi saksi bisu atas runtuhnya moralitas institusi tersebut.
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Pertanyaan besarnya: jika sebuah lembaga pendidikan terjerembab dalam praktik-praktik tercela ini, siapa yang harus menanggung dosa kolektifnya?
Apakah murid yang diombang-ambingkan oleh tekanan sistem? Ataukah guru yang terjepit di antara tuntutan administratif dan target capaian kepala sekolah? Ataukah para pembuat kebijakan yang kerap menjadikan angka statistik sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan?
Tanggung jawab ini tidak bisa dilempar begitu saja. Ini adalah masalah sistemik. Pertanyaannya sekarang: apakah kita kurang paham dengan esensi pendidikan, apakah ini dilakukan secara sengaja demi citra semu, ataukah memang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berhenti sejenak dan berbenah total?
Jangan Kejar Angka, Pelihara Manusia
Pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia. Ketika kita mereduksi dunia pendidikan hanya sebatas mengejar angka-angka statistik, pada saat itulah kita sedang mereduksi martabat manusia itu sendiri.
Kita sedang melahirkan lulusan-lulusan yang pintar secara kognitif, namun lumpuh secara nurani. Padahal, dunia nyata di luar gerbang sekolah tidak pernah membutuhkan orang-orang yang hanya bisa memanipulasi lembar jawaban. Dunia luar menuntut kejujuran, ketangguhan mental, dan karakter yang tahan banting.
Semoga tulisan ini dibaca oleh mereka yang masih memiliki nurani di ruang-ruang pengambil kebijakan, di kantor-kantor dinas, di ruang guru, dan di setiap bangku sekolah.
Sudah saatnya kita berhenti menjual angka dan mulai merawat kembali martabat manusia. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pandai, tetapi ia runtuh ketika orang-orang jujur memilih untuk menutup mata.
Barate, 04 November 2026 (malam-malam sambil cari angin di emper kos-kosan 😆)
Penulis : Del Neonub
Editor : Del Neonub







