Merdeka Seutuhnya : Bukan hanya lepas dari penjajah!
Kotbah Hari Raya Kemerdekaan oleh Rm. Chris Taus, Pr – Paroki Sta. Helena Lili – Camplong
Semua bangsa ingin merdeka. Karena itu kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Bangsa Indonesia, saat menyatakan kemerdekaannya, menegaskan dalam Pembukaan UUD ’45: penjajahan di bumi, harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun seringkali kemerdekaan diartikan secara sempit saja, yaitu kemerdekaan hanya bersifat: fisik, historis, teritorial, yakni bebas dari penjajah dan kekuasaan asing, dan berdiri sendiri sebagai satu bangsa, yang merdeka, berdaulat adil dan makmur.
Bangsa Indonesia telah merdeka sekita tahun, sejak 17 Agustus 1945. Dalam konteks ini baik. Tetapi dalam konteks rencana Allah, kita belum cukup dan sempurna. Karena Allah tidak saja memandang yang lahirnya tetapi yang batinnya. Kemerdekaan, menurut Allah, bukan saja pembebasan wilayah dari kekuasaan asing, tetapi kemerdekaan manusia sebagai citra Kemerdekaan Allah mencakup manusia seutuhnya, yakni lahir dan batinnya. Kemerdekaan politik atau wilayah, bagi Allah bukan tujuan, tetapi menjadi daya, untuk memperoleh kemerdekaan manusia yang utuh.
Kemerdekaan yang utuh ini harus terus diperjuangkan, karena tidak pernah akan selesai. Dan karena itu dunia ini, bangsa ini menjadi Medan juang bagi manusia untuk mencapai kemerdekaan yang utuh sempurna dan jika demikian, maka tugas kita setelah memperoleh kemerdekaan politik, tugas dan tanggungjawab selanjutnya memperjuangkan kemerdekaan: mental spiritual, moral dan kemerdekaan batin. Maka musuh kita bukan lagi penjajah asing tetapi mentalitas kita, yaitu mentalitas buruk dan jelek, perusak, dan sumber yang berada di baliknya ialah: SETAN. Ini jauh lebih berbahaya dan runut dari pada mengusir penjajah asing. Kita semua, siapa saja, setiap warga negara dituntut untuk membasmi musuh bebuyutan ini.
Untuk hal yang ini, kita ditegur oleh Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan Hari Merdeka ini:
Para penguasa/pemerintah: jangan terpengaruh oleh nafsu kuasa, uang, keserakahan. Untuk Rakyat: taatlah kepada para penguasa, berlaku baik terhadap sesama, dan akhirnya untuk smua warga negara/siapa saja. Hendaknya sadar akan kewajiban sebagai warga negara yang baik, dan warga umat yang baik. Beri kepada kaisar, yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.
PESAN IMAN:
Apakah kita sudah merdeka? Bila masih ada korupsi yang semakin menjadi-jadi, politik kotor yang memecah belah, ketidakadilan, hak-hak rakyat diperkosa, sikap intoleran,dst. Ini menjadi tanda bahwa kita belum merdeka sepenuhnya.
Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Sirakh,10,1-8
Mat,22,15-21