Era Baru NTT “Biru” | Charlens Harison Bising

BERITA43 Dilihat
Catatan Kontestasi Politik di Provinsi NTT 2018 (sudah diterbitkan di Harian Timor Express, 30/12/2018, baik cetak maupun daring)
OLEH: CARLENS HERISON BISING
Redaktur Polkam Harian Umum Timor Express

Kemenangan Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi di Pilgub NTT 2018
menjadi puncak titik balik kontestasi politik di Provinsi NTT. Daerah dengan 22 kabupaten/kota ini sudah dikuasai PDI Perjuangan selama
satu dekade. Sebagai Ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya menjabat gubernur
selama dua periode. Bahkan ketika presidennya dari Partai Demokrat, yakni
SBY.

Sayang, beberapa kader terbaik PDIP tidak sebening Frans Lebu Raya. Selain
di DPRD, banyak calon kepala daerah yang diusung PDIP dan koalisi keok. Di
tahun 2013 misalnya, setelah menang di pilgub untuk periode kedua, PDIP
hanya menang kurang dari 30 persen dari 10 pilbup yang digelar hanya
selisih 2 bulan.
Carlens Harison (kanan) & Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon (sumber:fb profil)

Di DPRD beberapa kabupaten, PDIP memang masih dominan dari segi perolehan
suara parlemen. Ketua DPRD Kota Kupang, Kabupaten TTU dan Sabu Raijua dari
PDIP. Termasuk Wakil Ketua DPRD NTT juga dijabat PDIP.

Tidak cukup sampai di situ. Pilkada serentak 2015 pun menyisakan kepahitan
bagi PDIP. Hanya satu kader PDIP yang terpilih sebagai bupati, yakni bupati
TTU, Ray Fernandes yang menang melawan kotak kosong. Dari 9 Pilbup. TTU
memang basis banteng karena ketua DPRD pun dari PDIP. Namun selain TTU,
PDIP hanya menjadi teman koalisi yang berhasil menang di Malaka, Sumba
Timur kala itu.
Ujian terakhir bagi PDIP untuk menghadapi pilgub 2018 adalah pilkada
serentak 2017 di Kota Kupang, Flores Timur dan Lembata. Kali ini, PDIP
menang di Flores Timur untuk kedua kalinya. Namun harus melepas Lembata
yang sebelumnya dikuasai PDIP ke Nasdem. Sementara Kota Kupang, pasangan
yang diusung PDIP dan koalisi, kalah dari koalisi Demokrat, PAN dan
Gerindra.
Baca Juga  Malam - Sebuah Puisi
Selain PDIP, Partai Gerindra yang menjabat wakil Ketua DPRD NTT pun
memiliki basis kekuatan di beberapa daerah. Pada Pilbup 2013, Gerindra
menang di Kabupaten TTS dan Sikka. Bahkan Ketua DPRD Belu yang juga ketua
DPRD perempuan pertama di NTT adalah kader Gerindra. Selanjutnya, pada
pilkada 2015, Gerindra juga menang di Sumba Barat.
Di sisi lain, PAN belum tergoyahkan di ujung Barat Pulau Flores. Kabupaten
Ngada, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat masih dikuasai PAN.
Kabupaten Sikka yang sebelumnya dipegang Gerindra, pada pilbup 2018 justru
dimenangkan oleh paslon perseorangan.
Hiruk pikuk politik NTT semakin ramai menjelang pilgub 2018. Pertengahan
2017, sejumlah tokoh bermanuver. Bahkan lompat pagar untuk mengamankan
kepentingan menuju pilgub. Semisal, Ketua DPD Golkar, Ibrahim Medah
hengkang ke Partai Hanura. Ini juga seiring politik nasional yang
mengobok-obok Partai Golkar.
Belum lagi munculnya nama Melki Laka Lena sebaga bakal calon gubernur dari
Partai Golkar membuat Iban Medah yang kala itu sedang jor-joran dengan
program Ubi Ungu meradang. Sementara Gerindra dan PAN sudah duduk manis
dengan calonnya. Bahkan sudah sejak 2016 mereka sudah memastikan
berkoalisi.
Manuver PDIP makan korban. Bahkan Lengsernya Daniel Tagu Dedo dari kursi
Direktur Utama Bank NTT jauh sebelumnya, disinyalir sebagai akibat dari
manuver tersebut. Dari istri Frans Lebu Raya, Ray Fernandes, Kristo Blasin
hingga Daniel Tagu Dedo, masuk dalam radar PDIP. Bahkan Iban Medah ingin
dipasangkan dengan Lusia Adinda Lebu Raya.
Keputusan PDIP mengusung paslon Marianus Sae-Emelia Nomleni berbuntut
panjang. Mulai dari Ray Fernandes, Kristo Blasin dan juga Honing Sany
hengkang. Ray yang juga Ketua DPC PDIP TTU disambut karpet merah di Nasdem.
Demikian pula Kristo Blasin. Sementara Honing Sany memilih Partai Golkar.
Pindah partai semakin masif beberapa hari setelah pilgub. Terutama memasuki
tahapan pencalegan.
Baca Juga  Manajemen Berbasis Sekolah Responsif Gender
Migrasi ini tidak lepas dari perubahan komposisi calon gubernur dalam
koalisi Golkar-Nasdem-Hanura dan PPP. Melki Laka Lena dan Jacky Uly yang
sudah diuji ke publik, tiba-tiba diganti. Nama Viktor Bungtilu Laiskodat
dan Josef Nae Soi yang dimunculkan menjadi cerita baru dalam perpolitikan
NTT. Keduanya tokoh nasional yang sudah malang melintang di DPR RI.
Dari segi finansial, Beny Harman yang dipasangkan dengan Beny Litelnoni
dari Demokrat-PKPI-PKS masih belum terkejar. Sejumlah tokoh pun satu per
satu merapat ke Viktory Joss. Masa kampanye yang panjang membuat lapangan
prediksi buram. Semua klaim menang, bahkan sebelum ditetapkan sebagai calon
oleh KPU.
Viktory Joss dengan logistik tebal, memulai dengan deklarasi tepat di HUT
ke-59 Provinsi NTT pada 20 Desember 2017. Berlanjut ke hampir semua
kabupaten dengan konsep yang nyaris sama.
Musibah pun kembali menimpa kolisi PDIP-PKB. Satu hari sebelum penetapan
calon oleh KPU, yakni 11 Februari 2018, Marianus Sae ditangkap KPK di
Surabaya dengan tuduhan tindak pidana korupsi. Langit NTT yang sebelumnya
merah, berubah gelap. Wajah NTT dipertaruhkan. Salah satu bupati terbaik di
NTT ternyata sudah diincar KPK sejak lama.
Isu perempuan pun menjadi senjata ampuh untuk mengembalikan kepercayaan
diri Emi Nomleni. Esthon-Chris juga harus bekerja keras. Gejolak nasional
terkait radikalisme yang menyerempet Partai Gerindra membuat paslon ini
serba hati-hati. Belum lagi terbakarnya mobil jabatan wakil gubernur, Benny
Litelnoni (DH 5) yang digunakan untuk kampanye, ikut merongrong kekuatan
pasangan Duo Benny.
Viktor Laiskodat pun tidak luput. Isu mantan narapidana menjadi senjata
ampuh untuk menyerangnya. Laku dan tuturnya yang dinilai kasar, bahkan
pemarah juga diumbar. Belum lagi kampanye debat paslon yang disiarkan
secara langsung di televisi nasional pun menjadi bahan untuk saling beradu
argumen. Belum lagi ide untuk menjadikan kelor atau marungga sebagai sumber
pendapatan dan juga solusi kesehatan menjadi bahan lelucon.
Baca Juga  Menakar Kepantasan Siswa Ditahan Kelas | oleh Simon Seffi
Januari sampai 27 Juni 2018 serasa begitu singkat. Jagad maya masih hangat.
Bahkan panas. Namun 27 Juni adalah penentuannya. Satu pilgub dan 10
pemilihan bupati digelar serentak. Hasil survei sejumlah lembaga berhasil
mengecoh publik hanya beberapa jam menjelang masa tenang.
Kejutan pun datang. Duo Benny yang diunggulkan menyaingi Viktory Joss
justru kalah dari Emi Nomleni dan Esthon-Chris yang berada di urutan kedua
dan ketiga setelah Victory Joss. Dari 3,1 juta pemilih, 35,20 persen atau
838.213 orang memilih Victory-Joss. Dengan kata lain, 2,3 juta lebih
masyarakat NTT tidak memilih Victory-Joss.
Perolehan suara PDIP juga ikut mendongkrak hasil pilbup di 10 kabupaten.
Bahkan PDIP menang di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Di Ende dan Alor,
PDIP serta Nasdem sama-sama mengusung paslon yang menang. Nasdem juga
menang di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Kupang.
Hasil pilkada serentak 2018 itu menjadi titik balik perpolitikan di NTT.
Nasdem kini murni memiliki lima bupati dari kader internal. Selain itu,
beberapa bupati juga merupakan koalisi Nasdem dan partai lain. Kini, Viktor
Laiskodat menjadi orang nomor satu di NTT. Bukan tidak mungkin membalikkan
kuasa yang selama ini dipegang PDIP. Saat NTT dipimpin Frans Lebu Raya.
Carlens Harison, Saat mewawancarai Gubernur NTT
Para bupati/wali kota yang sebelumnya menjadi raja di daerahnya, kini harus
berputar otak. Asistensi APBD dan juga usul mutasi eselon dua harus melalui
meja gubernur. Ini akan menjadi senjata ampuh untuk membuat NTT semakin
biru. Sebiru Nasdem. Minimal mereka yang dilantik langsung oleh Viktor. (*)



Tinggalkan Balasan